Mubeng Kampus Jogja

Konferensi AAS in Asia di UGM, Rektor Singgung Eksploitasi SDA Sebabkan Perubahan Iklim

Konferensi international Association for Asian Studies (AAS)-in-Asia resmi dibuka di Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (9/7/2024) di UGM.

Tayang:
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Gaya Lufityanti
istimewa
Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG (K), Ph.D. dalam pembukaan konferensi international Association for Asian Studies (AAS)-in-Asia di UGM, Selasa (9/7/2024) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Konferensi international Association for Asian Studies (AAS)-in-Asia resmi dibuka di Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (9/7/2024) di UGM.

Bertema Global Asias: Latent Histories, Manifest Impacts, agenda itu berlangsung hingga 11 Juli 2024.

Dalam pembukaan, Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG (K), Ph.D. mengatakan, kekayaan budaya Asia dan sumber daya alam (SDA) yang melimpah telah menarik berbagai kepentingan dan menempatkan Asia di jantung konflik global.

Situasi tersebut juga menempatkan masyarakat untuk belajar tentang pembangunan perdamaian dan ketahanan. 

Sebagai salah satu kawasan berkembang paling dinamis di dunia, sejarah mencatat bahwa Asia telah menjadi tempat persaingan strategis yang ketat antar negara-negara besar.

Dia pun menyinggung eksploitasi SDA yang acapkali menjadi salah satu faktor perubahan iklim.

“Saat ini, persoalan kolonialisme mungkin sudah jauh tertinggal dari kita. Namun, abad ke-21 ini telah membawa permasalahan kontemporer yang tidak pernah dibayangkan oleh nenek moyang kita. Itu adalah eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran demi pertumbuhan ekonomi telah membahayakan bumi,” katanya.

Dia mengatakan, dampak perubahan iklim semakin nyata dalam bentuk suhu global dan kenaikan permukaan air laut.

Belum lagi erosi pantai, gelombang badai yang lebih tinggi, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Ketidakseimbangan alam tersebut memicu efek bola salju pada seluruh aspek kehidupan, kesehatan, pendidikan, kemiskinan, dan seluruh aspek lain yang dinyatakan sebagai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Dia menyebut komplikasi permasalahan yang saling berkaitan memerlukan pendekatan analisis yang baru.

Oleh karena itu, integrasi Artificial Intelligence (AI) ke dalam bidang humaniora merupakan suatu transformasi dalam mempelajari budaya dan sejarah manusia.

Pergeseran paradigma ini mengubah cara tradisional kita melakukan penelitian, menganalisis informasi, dan berbagi wawasan.

“AI memungkinkan peneliti menganalisis data dalam jumlah besar dan menemukan pola dengan kecepatan tinggi yang sebelumnya tidak mungkin dicapai,” katanya.

Konfrensi internasional itu diikuti oleh lebih dari 1500 peneliti, akademisi, mahasiswa, seniman, dan praktisi yang berasal dari 43 negara.

Rektor juga sempat menyinggung soal meningkatnya keunggulan politik dan ekonomi di Asia juga disertai dengan risiko konflik dan beban lingkungan.

Oleh karena itu, konferensi AAS di Asia memainkan peran penting dalam menghubungkan para sarjana dengan keprihatinan bersama.

Meskipun semua akademisi tidak diragukan lagi adalah tokoh terkemuka di bidangnya, tapi konferensi ini menyediakan platform untuk menyatukan berbagai disiplin ilmu dan sudut pandang untuk mencapai pendekatan komprehensif guna mencapai kemajuan umat manusia. 

“Kami berharap suasana budaya Yogyakarta menginspirasi para peserta konferensi untuk memperkuat komitmen mereka untuk bergandengan tangan, memperkuat dampak kerja kami menuju kehidupan berkelanjutan,” ujarnya.

Kepada wartawan, President of the Association for Asian Studies (AAS), Hyaeweol Choi dari University of Iowa Amerika Serikat, menyampaikan alasan dipilihnya UGM sebagai tuan rumah karena Indonesia secara umum adalah lokasi yang sangat strategis untuk studi di Asia.

Ditambah Yogyakarta adalah kota pendidikan menjadi tempat produksi dan distribusi ilmu pengetahuan baru.

“Bagi saya sangat masuk akal untuk menyelenggarakan konferensi di sini, di pusat komunitas intelektual yang dinamis, jadi menurut saya ini adalah pilihan yang tepat,” atanya. 

Sebagai Presiden AAS, Professor Choi menegaskan konferensi AAS in Asia merupakan sebuah wadah yang penting bagi para sarjana di Asia dan negara lain untuk bergabung bersama dalam berbagi pengetahuan terbaru dan mutakhir.

Selain untuk memikirkan masa depan agar dunia yang harmonis dan hidup berdampingan secara lebih berkelanjutan seperti yang kita hadapi banyak krisis termasuk masalah lingkungan demokrasi serta kesenjangan sosial-ekonomi.

“Jadi kita semua yang terpelajar di sini, kita semua membahas semua permasalahan kontemporer berdasarkan agenda sejarah dan kontemporer,” katanya. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved