HET Beras Naik, Ini Kata Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras

kenaikan HET beras ini merupakan langkah strategis yang diambil pemerintah untuk menjaga stabilitas harga pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani

Penulis: Santo Ari | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jogja
Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi), Sutarto Alimoeso saat ditemui di Jogja Rabu 12 Juni 2024 

TRIBUNJOGJA.COM -  Badan Pangan Nasional (Bapanas) resmi menerbitkan peraturan anyar Harga Eceran Tertinggi (HET) beras melalui Peraturan Bapanas (Perbadan) No 5 Tahun 2024. 

Dengan demikian, kenaikan harga beras yang ditetapkan melalui relaksasi HET sebelumnya, menjadi resmi berlaku secara permanen

Terkait hal tersebut, Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi), Sutarto Alimoeso menjelaskan bahwa salah satu faktor untuk menentukan harga beras adalah harga gabah.

“Harga gabah ini sangat menentukan harga beras sampai tingkat konsumen. Makannya selalu kita sampaikan antara Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dan HET harus satu paket, tidak bisa misalnya HPP naik, HET tidak, itu tidak bisa, begitu juga sebaliknya,” ujarnya saat ditemui di Jogja, Rabu (12/6/2024) malam.

Kunjungannya ke Jogja kali ini adalah untuk menghadiri pelantikan pengurus DPD Perpadi DIY dan Rapimnas Perpadi yang digelar pada Kamis (13/6/2024).

Selain pengangkatan anggota baru dari Perpadi DIY, akan dibahas isu-isu terkini seperti kebijakan pemerintah untuk stabilisasi harga dan pasokan beras hingga sinergi dan kolaborasi petani dengan penggilingan padi.

Baca juga: Poster Viral DKV ISI Yogyakarta Meraih Juara Harapan di LIDM 2024

Menurut Sutarto, penggilingan padi sendiri turut memiliki peran  strategis untuk menjaga stabilitas harga beras di tingkat konsumen

“Situasi seperti ini betul-betul harus dikontrol terutama HPP gabah, supaya penggilingan padi dapat mengolah dan harganya sesuai HET,” ucapnya.

Ia menjelaskan faktor yang  mempengaruhi HPP adalah biaya produksi yang dikelurkan oleh petani. Ia mengungkapkan, dan menurutnya produksi gabah sebagian besar diproduksi oleh petani kecil dan penggarap.

Rata-rata para petani kecil tersebut tidak punya modal, lahan sempit, pupuk mahal, ongkos tenaga kerja, sewa alat juga mahal, dan lain-lain. Itu semua menentukan biaya produksi.

“Jika tidak ada jaminan keuntungan tertentu, maka mereka akan sekedar menanam saja. Ini yang jadi prihatinkan kita, kenapa akhir-akhir ini di lapangan banyak lahan yang dibiarkan tidak ditanami,” imbuhnya.  

Hal yang senada diungkapkan Arif Yunianto, yang kembali terpilih menjadi ketua DPD Perpadi DIY. Ia mengatakan kenaikan HET beras ini merupakan langkah strategis yang diambil pemerintah untuk menjaga stabilitas harga pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Namun, kebijakan ini perlu diiringi dengan upaya konkret untuk meminimalisir dampak negatifnya terhadap masyarakat. Diperlukan sinergi yang kuat dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, pengusaha, petani, dan masyarakat, untuk memastikan tercapainya ketahanan pangan dan stabilitas harga beras di Indonesia.

“Kenaikan ini kan kaitannya dengan biaya operasional petani. Biaya yang dikeluarkan oleh petani ter-cover oleh HPP dan HET yang baru. HPP untuk melindungi petani, HET untuk melindungi konsumen,” katanya.

Baca juga: LINK HASIL Pengumuman UTBK-SNBT 2024 Hari Ini 13 Juni 2024 Jam 15.00 WIB Lengkap dengan Caranya

Sementara terkait ketersediaan stok beras sendiri, Arif menjelaskan bahwa kondisi tersebut tidak bisa dilihat dari kondisi per daerah, tapi secara nasional. Ia mencontohkan, jika Jawa Barat panen maka akan didistribusikan ke Jogja, jika Jogja panen akan didistribusikan ke Jawa Timur.  

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved