Ranti Kenalkan Aplikasi Medosen Pengukur Dosis Obat Anestesi di Sidang Senat Terbuka Poltekkes

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta mengusung tema ‘Melesat Mendunia’ pada Dies Natalis ke-23 tahun ini.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Agus Wahyu
Istimewa
Ranti Puspitasari Putri Laoegi, mahasiswa Poltekkes Yogyakarta yang berhasil membuat aplikasi Medosen Pengukur Dosis Obat Anestesi 

TRIBUNJOGJA.COM - Poltekkes Kemenkes Yogyakarta mengusung tema ‘Melesat Mendunia’ pada Dies Natalis ke-23 tahun ini. Tema ini dikemukakan pada Sidang Senat Terbuka yang digelar di Auditorium Grha Bina Husada, Kamis (6/6) pagi.

Tajuk Melesat Mendunia merupakan wujud semangat untuk konsisten menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) perawat yang unggul bagi bangsa.

poltekkes neh

Direktur Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Dr Iswanto SPd MKes mengatakan, bahwa kampusnya memiliki visi misi yang selaras dengan arahan Menteri Kesehatan. “Arahan Menkes, kita diminta meningkatkan kualitas pendidikan. Di antara tolok ukurnya, adalah lulusan kita terserap, bisa memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan di daerahnya,” ucap Iswanto.

Iswanto mengungkapkan, mahasiswa Poltekkes Kemenkes Yogyakarta berasal dari berbagai daerah di Indonesia, tak terbatas dari Yogyakarta saja. Maka, setelah lulus, mereka akan diminta untuk kembali ke daerahnya.

“Artinya, kita berkontribusi dalam pemenuhan tenaga kesehatan di seluruh Indonesia,” paparnya.

Dia juga menyinggung terkait akreditasi untuk 17 program studi (prodi) yang ada di Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Dari 17 prodi itu, 59 persen terakreditasi Unggul atau A. Kemudian 35 persen terakreditasi Baik Sekali atau B dan enam persen terakreditasi Baik.

Diungkapkan pula, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta juga memiliki SDM sebanyak 386 orang yang terdiri 147 dosen dan 239 tenaga pendidik (tendik). “Ada seorang Guru Besar, 30 orang Lektor Kepala, 80 orang Lektor, 22 orang Asisten Ahli dan 14 orang pengembang prodi. Sementara, mahasiswa tahun ajaran (TA) 2023/2024 mencapai 3.868 orang,” lanjutnya.

Pada Sidang Senat Terbuka tersebut, ada dosen dan mahasiswa berprestasi yang menyampaikan orasi ilmiah. Yakni, Dr Atik Badi’ah SPd SKp MKes dan mahasiswa bernama Ranti Puspitasari Putri Laoegi.

Atik menyampaikan orasi ilmiah tentang Gelindingan Berduri (Glinduri) Reflektor Ekstremitas Individu Komorbid. Glinduri menjadi alat yang bisa digunakan individu dengan komorbid dalam peningkatan kualitas hidup dan meningkatkan derajat kesehatan.

“Glinduri ini merupakan alat reflektor pada titik peredaran darah di telapak tangan dan kaki untuk mengendurkan otot pegal lelah, kekakuan, menghilangkan rasa nyeri dan memperlancar peredaran darah serta relaksasi otot,” jelasnya.

Dikatakan, Glinduri dipakai di telapak maupun jari-jari tangan, juga telapak kaki. Atik menjelaskan, sudah ada tujuh buku yang diterbitkan meneliti tentang inovasi tersebut.

“Produk Glinduri ini merupakan inovasi dalam produksi alat penunjang kesehatan yang efektif dan terjangkau, serta berpotensi untuk dilakukan hilirisasi,” terangnya.

Dijelaskan Atik, Glinduri sudah memiliki hak paten dan hak cipta yang berjumlah 11 dari hasil penelitian Glinduri. Ditambahkannya, penerapan Glinduri dalam program pengelolaan penyakit kronis (prolanis) dianggap efektif.

Selanjutnya, Ranti mahasiswa berprestasi melakukan orasi ilmiah dengan mengangkat tentang aplikasi Medosen. Medosen, adalah aplikasi yang bisa mengukur dosis pengenceran dari obat anestesi.

“Saya membuat aplikasi Medosen ini, karena mahasiswa anestesi merasa kesulitan mengkalkulasi dosis pengenceran obat anestesi di kelas,” bebernya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved