Berita Jogja Hari Ini
Pasca Wafatnya Jemek Supardi, Jogja Kesulitan Regenerasi Seniman Pantomim
Pasca wafatnya maestro pantomim Jemek Supardi, Yogyakarta yang dikenal sebagai barometer seni pantomim kesulitan mengumpulkan arsip perjalanan pantomi
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pasca wafatnya maestro pantomim Jemek Supardi, Yogyakarta yang dikenal sebagai barometer seni pantomim kesulitan mengumpulkan arsip perjalanan pantomim.
Bahkan sosok seniman pantomim sekaliber Jemek Supardi diakui beberapa kalangan sangat sulit ditemukan.
"Jogja ini menjadi barometer pantomim, tapi setelah kematian Jemek (Supardi) mau apa," ujar seniman teater ISI Yogyakarta, Broto Wijayanto di sela jumpa pers Pentas Pantomin 2024 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Jumat (26/04/2024).
Baca juga: Gerindra Mulai Penjaringan Bakal Calon Wali Kota Yogyakarta, Digelar Tertutup
Kondisi ini, menurut Broto diperparah dengan arsip-arsip seni pantomim yang tidak banyak terdokumentasi.
Padahal sejarah panjang jejak pantomim tercatat di kota ini termasuk melalui sosok Jemek Supardi.
Beberapa nama pantomim kawakan lain yakni Wisnu Wardhana seorang seniman asal Yogyakarta yang bersekolah di Modern Dance Connecticut College School of Dance Dramatic Dance and Mime pada 1957.
Begitu pula Bagong Kussudiardja yang menciptakan tari di tahun 1954 “Layang-Layang” mengguncang wacana tari di Yogyakarta, tari yang dibuat konon gerak-geriknya menyerupai pantomim.
Ada pula, ada pula Moortri Purnomo, salah satu pendiri Bengkel Teater, yang memiliki banyak basis pengalaman pertunjukan (tari, teater dan beladiri) yang turut membangun karya pantomim melalui pengajaran di Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI), lalu Jemek Supardi, Dedy Ratmoyo, Didi Nini Thowok, Merit Hendra, Djaduk Ferianto, Nur Iswantara.
Bahkan Yogyakarta di tahun 1990an pernah memiliki Gabungan Aktor Pantomim Yogyakarta (GAPY) sebagai wadah pelaku pantomim yang di periode 2000-an kemudian menumbuhkan banyak kelompok dan generasi baru pantomim Yogyakarta mulai dari Ende Reza, Broto Wijayanto, Bengkel Pantomim Yogyakarta, Kopi Moka, Deaf Art Community, Temu Karya Mimer.
"Karenanya kami menantang kolaborator para seniman teater dan lainnya untuk membuat karya-karya melalui pentas pantomin," ungkapnya.
Kondisi sosial, modal sejarah, dari para pelaku yang ada, diharapkan Broto diharapkan menjadikan pantomim Yogyakarta sebagai aset dan salah satu visi penting bagi tawaran pertumbuhan nilai gagasan keistimewaan Yogyakarta dalam bidang kebudayaan.
Tak hanya di tingkat daerah namun juga nasional, maupun internasional.
"Harapan yang muncul kedepannya adalah pantomim Yogyakarta sebagai sebuah wacana disiplin pengetahuan dapat terbuka terhadap disiplin pengetahuan lain dan sebagai pertunjukan memiliki nilai multi interpretasi serta inklusi," paparnya.
Sementara Kepala TBY, Purwiati juga merasakan keprihatinan yang sama, dimana proses regenerasi seniman-seniman pantomin pasca kematian Jemek Supardi cenderung melambat.
Menurutnya para seniman membutuhkan ruang yang lebih luas untuk bisa berkreasi dan menghasilkan karya-karya liarnya.
| Menyusuri Gang Hansip Karno Waluyo, Lorong Kecil Berjuluk 'Gang Internasional' di Pusat Kota Jogja |
|
|---|
| Komnas HAM: Ada Dugaan Pelanggaran Hak Asasi Anak di Kasus Daycare Little Aresha Yogyakarta |
|
|---|
| El Nino Godzilla 2026: BMKG Prediksi Suhu Musim Kemarau Panjang di Yogyakarta |
|
|---|
| Tanggapan Warga Soal Wacana Pembatasan Kendaraan Bermotor di Jeron Beteng Keraton Yogyakarta |
|
|---|
| Hadapi Puncak Musim Penghujan, BPBD Kota Yogyakarta Pantau Sungai 24 Jam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berita-yogyakarta_20180911_145553.jpg)