Berita Otomotif Terkini
Yamaha XSR Tampil Nyentrik dengan Gaya Bosozoku
Bosozoku merupakan motor Jepang yang dimodifikasi dengan elemen American Chopper dengan British cafe racer.
Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM - Bosozoku adalah julukan untuk geng motor di Jepang yang mulai muncul di tahun 1950-an.
Anak muda yang melakukan pemberontakan karena tidak puas dengan kondisi sosial di masyarakat dan mencurahkan perlawanan mereka melalui otomotif.
Bosozoku merupakan motor Jepang yang dimodifikasi dengan elemen American Chopper dengan British cafe racer.
Kedua gaya tersebut dikombinasikan dan sentuhan spirit custom jepang sehingga terciptalah motor bergaya nyeleneh ini.
Seiring berkembangnya zaman, Bosozoku juga mulai banyak perkembangan, tak lagi diartikan secara harfiah sebagai geng motor tetapi sebagai salah satu aliran custom motor.
Di Jogja sendiri tak banyak builder yang nekat mengadaptasi gaya nyentrik Bosozoku untuk motor mereka.
Rafa (21) warga asli Surabaya yang sedang menempuh pendidikan di ISI Yogyakarta adalah salah satu pecinta motor yang berani mempercantik motornya dengan gaya Bosozoku.
Dia bukanlah geng motor, tapi mahasiswa biasa yang suka dengan budaya Jepang tersebut.
“Kalau saya pribadi, waktu SD pernah dibeliin komik berjudul Great Tacher Onizuka, lakonnya itu punya motor bosozoku. Waktu itu saya lihat, kok motornya aneh tapi asyik bentuknya,” ungkapnya.
Baca juga: Chopper Yamaha XSR 155 Pancaka Usung Modif Tribute to Covid-19
Hingga akhirnya sekitar tahun 2021, ia memiliki Yamaha XSR 155 dan berniat memodifikasi.
Saat bingung mencari referensi di internet, ia tak sengaja melihat gaya bosozoku ini.
Ia pun kembali teringat memori masa kecil, saat ia dibuat terheran-heran dengan siluet Bosozoku.
“Mumpung kayaknya cocok kalau Yamaha XSR dibentuk bosozoku, yasudah gas saja,” ucapnya.
Rafa mengungkapkan, ciri khas gaya ini adalah fairing oversize, stang yang tinggi dan jok bertingkat dengan senderan panjang.
Ia mengakui di Jepang sendiri, gaya Bosozoku kebanyakan berbahan motor yang ber-CC besar dengan dua atau empat silinder.
Namun secara tampilan visual, motor yang lebih kecil pun, menurutnya tetap dirasa cocok menerapkan gaya tersebut.
“Saya tidak mengubah rangka, karena gaya ini memang tidak memotong rangka seperti chopper atau cafe racer. Hanya menambah part yang jadi ciri khasnya, seperti fairing yang tinggi dan jok yang disebut sandan seat atau tumpuk tiga yang biasa dipakai di bosozoku,” katanya.
Gaya jok motor dengan sandaran yang menjulang ke atas ini sekilas memang mirip sissy bar di motor custom berkonsep chopper.
Tarkait fairing, ia pesan dari bengkel custom di Tangerang.
Fairing berbahan fiber di depan kemudian dipadukan dengan buntut yang ia desain sendiri, sementara proses pembuatannya dipasrahkan di salah satu bengkel di Jogja.
“Braket untuk fairing dan lampu depan juga custom. Meski terlihat tinggi, namun kalau malam lampu ini tidak menyilaukan mata yang lawan arah karena tetap diarahkan ke bawah,” bebernya.
Urusan knalpot pakai tabung silincer Satria FU, dibuat mendongak agar terlihat gahar dengan leher yang disesuaikan.
Sedangkan kaki-kaki masih bawaan dari Yamaha XSR 155.
Mengendarai motor dengan gaya yang tak biasa ini otomatis membuatnya jadi pusat perhatian di jalan.
“Bagi saya pribadi, tampil beda dan jadi pusat perhatian adalah efek samping, karena yang saya kejar adalah karena saya memang suka gaya ini,” bebernya.
Ia menyadari di Jogja tak banyak orang yang berniat dan berani menerapkan gaya ini di motor mereka.
Maka menjadi pusat perhatian di jalan, terutama di lampu merah sudah sering ia alami.
Lain halnya di Bandung, di mana komunitas Bosozoku sudah berkembang besar.
“Di Jogja, paling ada 3 sampai 4 orang yang custom motor Bosozoku. Jadi syukur-syukur ada yang liat, terus ikut, senang saja kalau akhirnya menginspirasi orang,” ucapnya.
Terkait kenyamanan, mengendarai motor gaya ini tak jauh beda dengan mengendarai motor biasa pada umumnya.
Fairing yang tinggi tak kemudian menghalangi jarak pandangnya, terlebih Rafa sendiri juga memiliki postur badan yang tinggi juga.
“Tetap bisa lihat jalan, meski 1 meter di depan ban tidak terlihat. Tapi aman-aman saja, kalau ada jalan berlubang tetap bisa menghindari. Dulu saya juga pernah pakai stang tossa, tapi sekarang pakai stang ninja karena dipakai buat motor harian,” jelasnya.
Meski terbilang hanya sedikit melakukan perubahan, namun gaya Bosozoku tetap terasa dan melekat di motor ini.
Menurutnya, tak perlu budget terlalu banyak agar bisa nyentrik ala Bosozoku.
Ia sendiri hanya mengeluarkan kocek sekitar Rp 7 juta saja.( Tribunjogja.com )
| Sukses dengan Zusu dan Desultan, Smoot Siap Luncurkan Dua Motor Listrik Baru di 2025 |
|
|---|
| Lukis Tangan di Motor Custom Sebagai Karya Seni Berjalan |
|
|---|
| Harley Davidson Dyna Wide Glide untuk Family Man yang Ingin Tetap Tampil Gahar |
|
|---|
| Motor Liyut dengan Rangka Tengah yang Bisa Belok Karya Wbike Kustom Garage |
|
|---|
| Puluhan Sepeda Motor Modifikasi Bertanding Ketat di Final Honda Modif Contest 2024 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Yamaha-XSR-Tampil-Nyentrik-dengan-Gaya-Bosozoku.jpg)