Prof Koentjoro Soeparno Deklarator Petisi Bulaksumur UGM Mengaku Alami Tiga Kali Teror

Koentjoro mengaku telah mendapat teror sebanyak tiga kali, dimulai sejak pembacaan petisi sebelum Pemilu 2024 hingga sesudah Pemilu.

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Muhammad Fatoni
dok.humas UGM
Gedung rektorat UGM 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Guru besar bidang Psikologi UGM, Prof Koentjoro Soeparno, mengaku mendapat teror dari orang tak dikenal, seusai membacakan Petisi Bulaksumur di acara Kampus Memanggil beberapa waktu lalu.

Koentjoro mengaku telah mendapat teror sebanyak tiga kali, dimulai sejak pembacaan petisi sebelum Pemilu 2024 hingga sesudah Pemilu.

Terkini, Ia mengaku mendapat teror melalui pesan singkat WhatsApp pada Sabtu (16/3/2024) pagi dari orang tak dikenal.

Prof Koentjoro menyampaikan tidak akan mengambil pusing terkait beberapa teror tersebut.

"Ada dua teror yang dilakukan setelah petisi sesudah pemilu. Kalau sama yang sebelum pemilu justru jadi 3 jenis teror," katanya, Selasa (19/3/2024). 

Teror yang pertama yakni lone wolf, di mana ada teror seperti yang terjadi kemarin, dimana muncul pesan berupa cacian dan makian ke nomor pribadinya. 

Kemudian, teror yang kedua dijelaskan Prof Koentjoro, bersumber dari buzzer dimana menurutnya itu sangat sistematis kemudian merambat menjadi kolektif.

Namun kalau dibandingkan dengan yang dulu, Prof Koentjoro mengungkapkan ada kemungkinan tiga jenis teror yang sempat dialaminya. 

"Karena yang satu ada teror melalui media sosial tetapi yang datang ke kantor ada 1. Itu sebelum pencoblosan, kalau sesudah pencoblosan itu hanya satu yang kemarin. Yaitu yang WA," tambahnya. 

Dia menandaskan jika teror tersebut ada kaitannya dengan pembacaan petisi yang dia lakukan.

Karena semua terjadi pascapetisi dan ada kalimat yang menyinggung soal petisi. 

"Jelas kalau itu, kan kalimatnya kan begitu kalimatnya mengatakan bahwa curang-curang, golek jabatan," tandasnya. 

Dia menegaskan jika dirinya enggan untuk melaporkan peristiwa itu ke pihak kepolisian. 

Sejauh ini, pihaknya masih berkonsultasi dengan rekan kepolisian untuk membicarakan kejadian ini.

"Secara resmi (saya) tidak akan melapor ke polisi. Karena saya pure sebagai media belajar," jelasnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved