Jeritan Hati Warga Moyudan dan Minggir atas Rusak Parahnya Jalan Godean
Jalan Godean, yang membujur di Kabupaten Sleman bagian barat belakangan dikeluhkan warga karena kondisinya rusak
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Jalan Godean, yang membujur di Kabupaten Sleman bagian barat belakangan dikeluhkan warga karena kondisinya rusak.
Terutama di ruas Jalan Godean-Ngapak Moyudan, kondisinya bergeronjal akibat bekas galian yang diaspal kurang sempurna.
Apalagi, di sejumlah ruas terdapat lubang-lubang kecil yang membuat pengendara tidak menyadari sehingga kerap terjatuh.
"Dikira jalannya rata ternyata berlubang, pengendara jeglek masuk dan jatuh. Itu sering sekali terjadi. Kami yang rumahnya di pinggir jalan sering sekali menolong korban (pengendara) jatuh," ucap Senaja (59) kepada Tribun Jogja Senin (18/3).
Dia merupakan warga Dusun Pingitan, Sumberarum yang juga mengatasnamakan Kelompok Jaga Warga yang melakukan aksi pasang banner di Jalan Ngapak-Godean, Minggu kemarin.
Ada puluhan banner yang dipasang di sepanjang jalan Godean-Ngapak. Senaja mengungkapkan, pemasangan banner tersebut dilakukan oleh Kelompok Jaga Warga dari 7 padukuhan di Kalurahan Sumberarum, Moyudan dan Sendangmulyo, Minggir.
Tujuannya, untuk memberitahu pengguna jalan agar lebih berhati-hati saat melintas. Selain itu, juga sebagai bentuk protes dan mengingatkan kepada pihak terkait yang memiliki kewenangan untuk memperbaiki ruas jalan tersebut.
Menurutnya, ruas Jalan Godean yang dinilai mengalami kerusakan cukup parah berada mulai dari Simpang Empat Kenteng hingga sebelum Simpang Empat Godean, lebih kurang sejauh 6-7 kilometer.
Senaja mengatakan, di ruas Ngapak tersebut terdapat bekas galian pipa PDAM Kartamantul saat mengambil air dari Kali Progo, namun galian tersebut ditambal kurang sempurna. Hal ini membuat para pengguna jalan kurang nyaman saat melintas.
"Meskipun terlihat rata tapi ketika naik kendaraan seperti ban gembes, terutama di titik sambungan penutup cor yang tidak rata. Beberapa ada yang ditambal tapi malah njendul. Dari masalah itu, pengguna jalan memiliki alternatif dengan mencari jalan nyaman ke tengah, sehingga rawan menimbulkan kecelakaan. Selain itu banyak jalan berlubang. Lubangnya belum besar tapi justru itu semacam lubang jebakan. Kebanyakan ibu-ibu yang menjadi korban," kata Senaja.
"Rumah saya di Dusun Pingitan, di samping jalan Godean. Kemarin tetangga saya juga meninggal dunia, tabrakan di Jalan Godean Ngapak ini. Kami pasang banner sebagai bentuk keprihatinan kami. Intinya, itu," imbuhnya.
Tidak direhab
Senaja mengatakan, Jalan Godean-Ngapak sudah puluhan tahun tidak direhab. Seingat dia, perbaikan peningkatan kualitas jalan terakhir dilakukan sekitar 20 tahun silam.
Selebihnya, hanya pemeliharaan dengan cara penambalan. Padahal, sependek ingatan dirinya, kualitas jalan harus ditingkatkan jika sudah berusia 10 tahun.
Karena itulah, dia bersama Kelompok Jaga Warga lainnya bersama-sama melakukan aksi solidaritas agar Jalan Godean cepat diperbaiki.
"Apalagi jalan Godean ini kan ramai banget. Terutama hari Minggu, banyak bus-bus wisata lewat dari Jogja mau ke arah Kulon progo. Karena di wilayah Ampirono Kulon progo itu ada wisata baru. Banyak bus lewat Jalan Godean ini," ujar Senaja.
Pihaknya mengaku butuh kepastian, kapan Jalan Godean masuk rencana perbaikan total. Jika tak kunjung diperbaiki, pada warga akan menggalang aksi lebih besar lagi dengan melibatkan lebih banyak kelompok Jaga Warga.
"Kami sudah koordinasi dengan kelompok Jaga Warga Sumberagung, Sidorejo, dan Sendangarum, untuk bisa ikut bersama-sama agar bisa segera diperhatikan. Kami menginginkan ada semacam kepastian kapan Jalan Godean-Ngapak akan direhab total," tutup Senaja.
Sering kecelakaan
Salah satu warga, Nugroho (56) mengatakan, lokasi rumahnya berada di pinggir Jalan Godean-Ngapak, tepatnya di Sembuhan. Dia menyebut di jalan tersebut sudah sering terjadi kecelakaan karena jalan rusak,
"Di Sembuhan sampai jembatan Ngapak (jembatan Kali Progo), udah berkali-kali itu (kejadian kecelakaan), di depan rumah. Itu udah banyak bangetlah kejadian di situ," ujar Nugroho saat dihubungi Kompas.com, Senin (18/3).
Nugroho mengungkapkan, kejadian kecelakaan selama ini lebih banyak terjadi pada malam hari. Kebanyakan yang mengalami kecelakaan adalah pengguna sepeda motor.
Peristiwa kecelakaan yang terjadi mulai dari jatuh sendiri hingga tertabrak kendaraan lain karena menghindari jalan yang berlubang.
"Yang terbaru belum lama ini, korban meninggal anggota Jaga Warga," tuturnya.
Nugroho pun mengaku selama hampir dua tahun tinggal di wilayah tersebut sudah berkali-kali menolong korban yang mengalami kecelakaan.
Peristiwa kecelakaan itu baik yang terjadi di depan rumahnya maupun sekitar Jalan Godean daerah Sembuhan-Ngapak.
"Kalau saya ingat-ingat belasan kali (menolong korban kecelakaan). Saya kan baru akan dua tahun di situ, itu aja sudah segitu. Dulu waktu saya pas cuti, itu pasti menolong juga, pasti ada (kejadian kecelakaan)," urainya.
Menurut Nugroho, kebanyakan korban kecelakaan mengalami luka-luka. Meskipun, ada juga korban meninggal dunia.
"Saya lihat kondisinya dulu, kalau luka ringan kita pinggirkan lalu kita obati. Kalau korbanya parah, ya, kita menghubungi ambulans, kita tunggu dari ambulans sama kepolisian," urainya.
Warga sudah jenuh dengan kejadian kecelakaan. Sehingga berharap ada tindakan dari dinas terkait untuk memperbaiki ruas jalan.
"(Jenuh) dengan kejadian kecelakaanya. Kalau menolong kan tetap harus menolong," tandasnya.
Aksi keprihatinan
Jaga Warga di Kapanewon Moyudan dan Minggir mengelar aksi keprihatinan atas kondisi ruas Jalan Godean-Ngapak yang rusak dan menyebabkan sejumlah kecelakaan, Minggu pagi kemarin.
Aksi keprihatinan ini digelar dengan membentangkan banner di pinggir Jalan Godean-Ngapak, tepatnya di Pingitan, Sumberarum, Kapanewon Moyudan, Sleman.
Dari pantauan Kompas.com sejumlah anggota Jaga Warga tampak memegang berbagai spanduk di pinggir jalan Pingitan, Sumberarum, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman. Spanduk-spanduk tersebut bertuliskan antara lain "Nggak malu?? Katanya Istimewa!!! Kok Jalanya Rusak?".
Lalu ada juga yang bertuliskan "Gething kuu..!!! Bendino Ngliwati Dalan Elek".
Kemudian ada pula tulisan "Jalanku Tak Seindah Pesonamu #savejalangodean", "Haruskah Lapor Satria Baja Hitam untuk Perbaikan Jalan Ini", "Pelan-pelan sudah banyak korban" dan "Pajake Lancar Dalane Ambyar".
Aksi keprihatinan ini ditutup dengan memasang spanduk-spanduk tersebut di sepanjang jalan.
Di lokasi yang belum lama ini terjadi kecelakaan yang menyebabkan korban meninggal, dipasang tulisan untuk mengingatkan pengguna jalan agar berhati-hati saat melintas di sana.
Pengerjaan Awal 1,5 Km
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUPESDM) DIY, Anna Rina Herbranti, angkat bicara terkait aksi warga yang mengeluhkan rusaknya ruas Jalan Godean-Ngapak yang tak kunjung diperbaiki.
Dijelaskannya, pada tahun ini Jalan Godean akan mulai dilakukan proses perbaikan sepanjang 1,5 kilometer (km), dimulai dari Pasar Godean ke barat. "Kontrak rehab akan dimulai akhir Maret ini atau awal April," kata Anna.
Ditambahkan Anna, pihaknya sudah meminta bantuan dari pemerintah pusat melalui dana Inpres Jalan Daerah (IJD) untuk Jalan Godean. Namun ruas jalan tersebut belum lolos.
"Kami akan berkoordinasi dengan pusat, semoga dapat diberi anggaran sisa-sisa lelang di pusat melalui IJD. Intinya kami berusaha mencari anggaran untuk perbaikan kondisi jalan tersebut," ujarnya.
Adapun dalam rangka mengantisipasi jalan berlubang sembari menunggu anggaran perbaikan jalan, DPUPESDM akan melakukan pemeliharaan rutin. Apalagi saat ini mendekati arus mudik-balik dan musim liburan Lebaran mendatang.
Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga DPUPESDM DIY, Kwaryantini Ampeyanti Putri, menjelaskan bahwa proses perbaikan Jalan Godean-Ngapak saat ini telah memasuki proses lelang dan ditargetkan akan dilakukan kontrak dengan pihak ketiga pada akhir Maret 2024. Sedangkan pekerjaan fisik konstruksi dimulai setelah Lebaran.
Dijelaskan Kwaryantini, pekerjaan fisik perbaikan Jalan Godean akan dilakukan bertahap meliputi 1,5 kilometer ruas jalan di sebelah barat Pasar Godean yang akan mulai dikerjakan tahun ini.
"Untuk sementara yang kami tangani baru sepanjang 1,5 kilometer, menyesuaikan kemampuan anggaran daerah," jelas Kwaryantini.
Meski demikian, lanjut Kwaryantini, setiap tahunnya akan diusulkan untuk peningkatan Jalan Godean tahap selanjutnya menggunakan alokasi APBD DIY sebesar Rp11 miliar.
Pasalnya, ruas jalan provinsi di DIY mencakup 674, 585 kilometer meliputi empat wilayah, sehingga diperlukan mekanisme dalam penganggaran dan penanganannya.
"Ada beberapa ruas jalan yang diusulkan Pemda DIY ke pusat melalui Inpres Jalan Daerah, salah satunya adalah Jalan Godean ini," ujarnya.
Sedangkan untuk penanganan sementara, sembari menunggu proses lelang dan kontrak selesai instansi ini melakukan pemeliharaan rutin dengan metode long segment atau kontrak untuk semua ruas sampai dengan akhir Desember.
"Dalam beberapa hari ini sebetulnya sudah kami turunkan tim untuk menangani lubang di Jalan Godean, dengan anggaran pemeliharaan rutin," terangnya.
Kwaryantini memastikan semua lubang di ruas Jalan Godean akan tertangani sebelum musim mudik Lebaran tiba.
"Sedangkan untuk antisipasi arus mudik, kami lakukan penambalan lubang dengan pemeliharaan rutin. Harapannya sebelum musim mudik Lebaran tiba, semua lubang sudah tertangani," pungkasnya. (Tim Tribun Jogja/Kompas.com)
| Sasar Korban Acak, Tiga Pembacok Mahasiswa di Godean Sleman Ditangkap, 1 Masih DPO |
|
|---|
| Peletakan Batu Pertama Mapolda DIY di Godean, Sri Sultan HB X Inginkan SDM Polri Presisi dan Humanis |
|
|---|
| Kecelakaan Maut di Jalan Godean: 1 Pemotor Tewas, 2 Luka-luka |
|
|---|
| Akhir Tragis 3 Remaja Naik KLX dan Ayunkan Celurit di Jalan Godean: Tabrak Tugu Lalu Dibekuk Polisi |
|
|---|
| Pemkot Yogyakarta Siapkan Lahan 2 Hektare untuk 'Taman Pintar II' di Umbulharjo |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Warga-Moyudan-dan-Minggir-melakukan-aksi-atas-kondisi-Jalan-Godean-Ngapak.jpg)