Peringati 75 Tahun SO 1 Maret, YKCB Gelar Acara Refleksi di Museum HM Soeharto

Yayasan Kajian Citra Bangsa menggelar acara peringatan SO 1 Maret di Museum Memorial Jenderal Besar Soeharto, Kemusuk, Bantul pada Kamis (29/2/2024)

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Mona Kriesdinar
IST
Acara peringatan 75 tahun peristiwa Serangan Umum 1 Maret di Museum Memorial Jenderal Besar Soeharto, Kemusuk, Bantul pada Kamis (29/2) malam 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Dalam rangka memeringati 75 tahun peristiwa Serangan Umum 1 Maret, Yayasan Kajian Citra Bangsa (YKCB) bersama Museum Memorial Jenderal Besar Soeharto menggelar acara peringatan 75 tahun peristiwa Serangan Umum 1 Maret bertema 'Janur Kuning Membongkar Kebohongan Belanda' di Kemusuk, Kabupaten Bantul pada Kamis (29/2) malam.

Pada kesempaten tersebut, dilaksanakan acara syukuran sederhana, sarasehan dan refleksi tentang janur kuning, serta diisi pula dengan acara nonton bareng film Janur Kuning.

Sekretaris YKCB, Bakarudin mengatakan, ada yang berbeda pada penyelenggaran peringatan Serangan Umum 1 Maret tahun ini. Yakni tidak adanya upacara dan acara tabur bunga di Taman Makam Perjuangan Somenggalan seperti halnya pada tahun-tahun sebelumnya. Alasannya, karena pada saat bersamaan Taman Makam Perjuangan sedang dalam proses pemugaran.

Sementara itu, penulis buku Noor Johan Noeh yang juga hadir dalam acara itu memaparkan tentang peran sentral Soeharto dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Menurut dia, Soeharto memainkan peranan penting namun namanya justru dihilangkan dalam Keppres No 2 Tahun 2022. Noor Johan menyebut hal itu sebagai bagian dari penggelapan sejarah.

Padahal jika serangan umum itu gagal, maka sejarah akan mencatat cerita yang lain. Yakni Indonesia menurutnya bisa menjadi bagian dari Kerajaan Belanda hingga sekarang.

Oleh sebab itu, dia berharap melalui acara peringatan tersebut, maka semangat SO 1 Maret 49 akan terus diwariskan kepada generasi muda. Sehingga sejarah perjuangan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan akan terus diingat oleh generasi selanjutnya, yang antara lain dapat dilakukan pula melalui pembelajaran sejarah di sekolah dan perguruan tinggi.

"Dari sejarah kita bisa memberikan pemahaman, bahwa sejarah dapat menegakkan kemandirian dan kedaulatan negara,"katanya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved