Jokowi Serahkan Bansos Beras di Sleman

Presiden Jokowi Serahkan Bantuan Beras di Sleman, Ini kata Sri Sultan HB X 

Kepala Negara memberikan bantuan beras tersebut didampingi Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X. 

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Ahmad Syarifudin
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X saat mengunjungi Gudang Bulog di Kalurahan Purwomartani, Kalasan, Sleman. Kedatangan Ngarso Dalem ini dalam rangka mendampingi Presiden Jokowi untuk mengecek stok dan menyalurkan bantuan beras kepada masyarakat. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyerahkan bantuan beras 10 kilogram kepada keluarga penerima manfaat (KPM) di Kabupaten Sleman.

Penyerahan bantuan dilakukan di gudang Bulog di Kalurahan Purwomartani, Kalasan, Senin (29/1/2024).

Kepala Negara memberikan bantuan beras tersebut didampingi Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X. 

Menurut Ngarso Dalem, pemberian bantuan perlu dilakukan karena kondisinya harga beras terus naik. 

"Saya kira pada kondisi seperti ini, perlu (diberi bantuan), khususnya masyarakat tertentu karena bagaimana pun harga beras naik terus," kata Sri Sultan HB X

"Jadi saya kira bantuan seperti ini menjadi sesuatu yang penting untuk membantu potensi kemampuan dia (masyarakat) yang terbatas," imbuhnya. 

Disinggung bagaimana cara meningkatkan produktivitas beras di Yogya, Sri Sultan HB X menjawab dengan cara mempersiapkan kualitas benih yang baik.

Ngarsa Dalem kemudian menjelaskan tentang produktivitas beras di Yogyakarta.

Menurut dia, produktivitas beras di kota pelajar sudah melebihi dari konsumsi yang dibutuhkan masyarakat.

Angka produksinya sudah mendekati 900 ribu ton dari kebutuhan maksimum hanya 700 ribu ton.

Artinya surplus 200 ribu ton dari Yogya bisa dikirim ke luar daerah. 

Kendati demikian, kata Ngarsa Dalem, dalam kondisi seperti ini, permasalahan yang dihadapi bukan hanya harga beras.

Tapi bagaimana mengontrol kebutuhan barang yang lain karena ikut terkerek naik.

Untuk mengidentifikasi harga kebutuhan yang lain itu juga tidak semudah hanya masuk pasar. Tetapi dibutuhkan kecermatan. 

"Misalnya (harga) lombok yang dekat jalan besar harganya tentu lebih tinggi, dibanding dengan (lombok) di jalan kecil. Sehingga kita harus cermat melihatnya," katanya. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved