Tata Cara Sholat

Apa Itu Sholat Syuruq? Jumlah Rakaat dan Bacaan Doa

Secara bahasa kata isyraq bermakna terbit, ‘asyraqas syamsu’ yang berarti matahari telah terbit. Maka

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
123rf.com
ILUSTRASI sholat syuruq 

TRIBUNJOGJA.COM - Sholat sunnah isyraq atau syuruq adalah sholat sunnah yang dikerjakan sejak matahari terbit  diperkirakan matahari naik satu atau dua tombak (15 menit setelah matahari).

Secara bahasa kata isyraq bermakna terbit, ‘asyraqas syamsu’ yang berarti matahari telah terbit.

Maka secara fiqih pelaksanaan sholat tersebut yaitu setelah matahari terbit atau sebelum manjingnya waktu sholat Dhuha.

Menurut Imam al-Ghazali, Imam as-Suyuthi, dan Syekh Alil Muttaqi al-Hindi, sholat Isyraq bukan sholat Dhuha, sedangkan menurut kebanyakan ulama adalah sholat Dhuha.

Sebab itu, berdasarkan pendapat yang menyatakan sholat Isyraq bukan sholat Dhuha maka ketentuan hukumnya berbeda dengan shalat Dhuha.

Namun Syekh Ibnu Utsaimin memiliki pendapat berbeda, “Shalat isyraq adalah shalat dhuha. Namun, jika kamu menunaikannya di awal waktu saat matahari terbit dan telah meninggi (dari ufuk) seukuran batang tombak (menurut pandangan kasat mata), itu dinamakan shalat isyraq. Apabila ditunaikan di akhir waktu atau di pertengahan waktu, itu dinamakan shalat dhuha.

Akan tetapi, shalat isyraq tergolong shalat dhuha, karena ulama –rahimahumullah– mengatakan bahwa waktu shalat dhuha dimulai sejak matahari meninggi seukuran batang tombak sampai menjelang zawal (matahari bergeser ke ke arah barat).”

Ibnu ‘Utsaimin juga berkata, “Shalat isyraq adalah shalat yang dilaksanakan setelah matahari meninggi seukuran batang tombak. Lamanya menurut perhitungan jam sekitar lima belas menit atau semisal itu. Itu adalah shalat isyraq dan merupakan shalat dhuha, karena pelaksanaan shalat dhuha dimulai sejak matahari meninggi seukuran batang tombak hingga menjelang zawal. Shalat dhuha lebih utama dilaksanakan di akhir waktu daripada di awal waktu.

Kesimpulannya, dua rakaat shalat isyraq adalah dua rakaat shalat dhuha. Hanya saja, jika disegerakan pelaksanaannya di awal waktu, yaitu saat matahari meninggi seukuran batang tombak, itu adalah shalat isyraq dan dhuha. Jika diakhirkan pelaksanaannya di akhir waktu, itu adalah shalat dhuha, bukan shalat isyraq.”

Syariat sholat isyraq datang dari Hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ، تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ.

“Barang siapa shalat subuh berjamaah (di masjid), lalu duduk berzikir hingga terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat, adalah hal itu berpahala seperti pahala satu haji dan satu umrah yang sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. at-Tirmidzi)

At-Tirmidzi berkata “hadits ini hasan gharib. Aku telah bertanya kepada Muhammad bin Ismail (Imam Al-Bukhari) perihal Abu Zhilal. Ia menjawab ‘Muqaribul Hadits (riwayat haditsnya mendekati).’

Terkait sholat dhuha syekh Bin Baz berkata “Shalat isyraq adalah shalat dhuha di awal waktu. Yang lebih utama adalah dilaksanakan ketika waktu dhuha telah meninggi dan terik matahari amat panas. Hal itu sebagaimana sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

صَلاَةُ الْأَوَّابِيْنَ حِيْنَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved