Pemkab Sleman Siapkan Rencana Kontijensi Hadapi Potensi Longsor di Prambanan 

Khusus menghadapi potensi tanah longsor di wilayah Prambanan, Pemkab Sleman juga telah menyusun rencana kontijensi. 

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Ancaman potensi bencana semakin meningkat seiring datangnya musim penghujan.

Masyarakat di DIY diminta meningkatkan kewaspadaan, bahkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi juga telah ditetapkan.

Di Kabupaten Sleman, pemerintah setempat juga menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi baik kering maupun basah mulai Desember 2023 hingga akhir Februari 2024.

Khusus menghadapi potensi tanah longsor di wilayah Prambanan, Pemkab Sleman juga telah menyusun rencana kontijensi. 

"Kami sudah menyusun rekonti, rencana kontijensi tanah longsor di wilayah Prambanan. Kalau kita bicara longsor di Sleman, titik yang paling rawan memang di sana," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, Selasa (16/1/2024). 

Rencana kontijensi merupakan upaya sistematis yang bertujuan untuk kesiapsiagaan. Satu di antaranya adalah tanah longsor.

Selain rekonti, antisipasi tanah longsor di Prambanan juga dilakukan dengan memasang early warning system (EWS) atau sistem peringatan dini.

Saat ini ada tiga EWS yang aktif dan terpasang untuk menghadapi potensi tanah bergerak di wilayah Prambanan bagian atas. 

Bambang mengatakan, potensi bencana longsor juga bisa terjadi di puncak gunung Merapi.

Yakni berupa longsoran kubah lava yang bisa mengarah ke selatan wilayah Kabupaten Sleman.

Kemudian juga potensi longsor di tebing kanan - kiri sungai berhulu di lereng gunung Merapi. 

"Kemarin ada longsor di Pakem, Candibinangun, Harjobinangun. Kemudian di Hargobinangun juga ada. Kerusakannya menggerus lahan warga. Ini juga perlu diantisipasi," kata Bambang. 

Menurut dia, untuk menghadapi potensi bencana di seputar lereng gunung diperbatasan DIY - Jateng itu, kini sudah terpasang EWS di 34 titik.

Sistem peringatan dini tersebut untuk mendeteksi potensi banjir lahar maupun bencana erupsi gunung Merapi.

Adapun untuk bencana hidrometeorologi di pusat kota, kata Bambang potensi ancamannya adalah genangan akibat drainase yang tersumbat maupun pohon atau baliho roboh.

Pihaknya mengimbau kepada relawan maupun Kalurahan Tangguh Bencana (Kaltana) untuk mulai memitigasi potensi bencana di wilayahnya masing-masing.

Satu di antaranya, dengan memangkas pohon-pohon tinggi yang dahannya rindang dan berpotensi tumbang. 

Menurut dia, wilayah Kabupaten Sleman jika hujan deras saja mungkin relatif masih aman.

Namun yang dikhawatirkan, hujan disertai dengan angin kencang yang bisa menyebabkan baliho maupun pohon dipinggir jalan tumbang. 

"Kemarin juga sudah ada korban. Pengendara tertimpa pohon tumbang. Maka kami imbau jika sedang berkendara, hujan deras apalagi disertai angin, lebih baik menepi," ujar dia.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Makwan juga sebelumnya telah mengungkapkan bahwa Kabupaten Sleman menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi, baik basah maupun kering.

Status ini berlaku dari tanggal 1 Desember 2023 hingga 28 Februari 2024.

Masyarakat diimbau untuk hati-hati dan memitigasi berbagai potensi ancaman bencana hidrometeorologi di wilayah masing-masing. 

"Kami berharap warga masyarakat apabila disekitar rumah terdapat pohon cukup tinggi membahayakan, mudah roboh, maka dipangkas tajuknya. Jangan dipotong. Tapi dipangkas saja kerindangannya agar tidak mudah tumbang," katanya.(*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved