Human Interest Story

Kisah Rubiono, Jadi ”Pak Ogah” dengan Satu Kaki demi Keluarga

Seorang pria berbaju hijau tengah berdiri di tengah pertigaan Bumijo, Kota Yogyakarta. Setiap pagi hingga sore, pria itu mengatur lalu lintas

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
Ananda Putri Oktaviani MG
Rubiono, tengah mengatur lalu lintas di Pertigaan Bumijo, Yogyakarta 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYAKARTA - Seorang pria berbaju hijau tengah berdiri di tengah pertigaan Bumijo, Kota Yogyakarta. Setiap pagi hingga sore, pria itu mengatur lalu lintas atau kita sering menyebutnya dengan ”Pak Ogah”. 


Suara bising kendaraan dan klakson terus terdengar di telinganya, panas terik matahari yang menyengat sudah tak jadi masalah baginya. Yang jadi masalah adalah jika ia tak membawa uang ketika pulang. 


Dengan suara yang ia gunakan, ia terus mengatur lalu lintas bersama dengan tangannya yang luwes bergerak ke sana kemari. Ia harus berbalik badan sesekali dengan mengangkat kruk jika posisi berdirinya tidak pas untuk mengatur jalan.


Walau pekerjaan tersebut terlihat mudah tetapi itu tidak semudah yang terlihat. Ia harus berdiri dengan tumpuan satu kaki dan kruk yang ia pegang. Ia kehilangan kaki kanannya akibat kecelakaan tunggal yang dialaminya pada tahun 2008 silam.


“Dulu saya supir bus Jogja-Tempel, tahun 2008 saya kecelakan tunggal, roda depan kanan busnya itu lepas dan saya terguling dua kali dan kaki saya terjepit pedal rem yang membuat saya kehilangan kaki kanan saya ini,” kata Rubiono, saat ditemui di Pertigaan Bumijo, Jumat (12/1/2024).


Meski begitu ia tak putus asa untuk bekerja walau dengan keterbatasan fisik yang ia miliki. Semangat yang dimiliki Rubiono ini sangat patut dicontoh. Walaupun ia sempat menganggur selama 5 tahun karena ia bingung harus bekerja apa. 


Istrinya yang hanya kerja sebagai IRT tentunya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari - harinya. Lantas ia memutuskan untuk bekerja sebagai juru parkir di Rumah Makan Sintawang sebelum akhirnya ditutup pada saat corona. 


Kemudian ia menjadi juru parkir di ATM dekat Rumah Makan tersebut akan tetapi  ATM nya juga ditutup karena dibangun bangunan baru.


Barulah setelah itu ia memutuskan untuk menjadi pak ogah sejak 3 tahun lalu. Ia memilih menjadi pak ogah karena tak ada pilihan lain lagi baginya.  Sebagai kepala keluarga ia tetap harus memenuhi kebutuhan sehari - hari keluarganya.

Terlebih lagi, ia harus menghidupi istri dan 2 anaknya.

Selain itu, Rubiono juga harus membayar uang sewa dari rumah kontrakan yang ia tinggali  dengan keluarganya di daerah Kricak, Tegalrejo, Kota Yogyakarta 


“Prinsip saya yang penting kalau bekerja jangan malu dan harus kerja keras, dan yang penting saya tidak merugikan orang. Dikasih saya terima enggak juga tidak apa, namanya rejeki kan gak tau ya,” ungkapnya


Penghasilannya sebagai ”Pak Ogah” juga tak menentu, kadang ia membawa uang yang cukup untuk keluarganya kadang juga ia tak membawa uang yang cukup. Namun, ia tetap bersyukur karena menurutnya rejeki kan tidak ada yang tahu. 


“Kadang dapat Rp 50.000, Rp 60.000, kadang cuma Rp 30.000. Rejeki kan gak tau, disyukuri saja masih bisa untuk makan. Namanya hidup ya harus usaha lah, kalau gak usaha gak bisa makan jadi kita harus kerja keras ” pungkasnya. (MG Ananda Putri Oktaviani)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved