Restorasi Garuda Jetspeed 125, Pionir Skuter Matic di Indonesia

Motor Garuda dengan kapasitas 125CC ini bisa dibilang pionir motor skuter matic 4 tak di Indonesia, selain Kymco.

Penulis: Santo Ari | Editor: Hari Susmayanti
Dok Pribadi
Garuda Jetspeed 125 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Motor skuter matic masih menjadi primadona di jalanan saat ini. 

Namun sebelum motor matic dari pabrik Yamaha dan Honda merajai jalanan, ada motor pabrikan Cina dan Taiwan yang mengawali invasi motor matic di Indonesia di tahun 2000-an awal.

Salah satunya, adalah Garuda Jetspeed 125, motor asal Cina yang kala itu bersaing dengan merek Kymco asal Taiwan.  

Namun saat itu, motor-motor tersebut seakan kurang pamor, barulah ketika Yamaha mengeluarkan Mio dan Vario di kubu Honda, motor matic mulai digemari masyarakat Indonesia.

Karena kurang pamor, sedikit masyarakat yang memiliki motor Garuda Jetspeed 125. Hal itu membuat Wiki, seorang  pecinta motor unik asal Bantul memburu motor ini.

“Kalau aku memang senang motor-motor yang aneh bentuknya, karena menurutku biar dijalan tidak sama dengan motor-motor lain. Dan aku lihat motor Garuda ini bentuknya lucu. Dulu mungkin orang melihatnya aneh, tapi sekarang malah terkesan unik,” terangnya.

Motor Garuda dengan kapasitas 125CC ini bisa dibilang pionir motor skuter matic 4 tak di Indonesia, selain Kymco. 

Namun saat itu orang-orang masih terbiasa menggunakan motor bebek seperti supra, shogun dan lainnya.  
 
“Menariknya motor ini, demi menarik pasar lokal, diberi nama Garuda. Padahal ini motor Cina, namun di-branding seolah-olah ini motor lokal,” ujarnya.

Hal itu pula yang mendasari ia berburu motor Garuda. Karena tak populer, jarang yang menjual motor jenis ini dan ketika ada yang menjual pun diberi harga murah.  

“Motor ini tidak mahal, tergantung kondisinya. Yang tidak ada suratnya mungkin cuma dijual Rp 1 jutaan, kalau kondisi utuh surat-surat lengkap, cuma di sekitar Rp 4 jutaan,” bebernya.  

Saat pertama kali membeli motor ini,  banyak bagian body yang retak-retak karena termakan usia, dan perlu ada penggantian di mesinnya.

Susahnya, untuk body, Wiki mengaku kesulitan melakukan restorasi karena hampir tidak ada yang menjual bagian body dalam kondisi baru atau bagus.

Alhasil ia harus mendempul bagian-bagian yang retak dan mengecat ulang motor tersebut.  

“Kalau beli part-nya hampir dibilang nggak ada di Indonesia. Kalau pun ada  harus blusukan ke kolektor-kolektor. Apalagi ini bukan merek yang mainstream,” tuturnya.

Restorasi body dilakukan dengan pengecatan ulang body motor dengan warna silver. Namun ia kesusahan mencari speedometer baru di Indonesia.  Ia pun terpaksa mendatangkan speedo meter dari cina.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved