Berita Bantul Hari Ini

Perajin Wayang Kulit di Pucung-Wukirsari Bantul Minim Regenerasi

Ketua Paguyuban Perajin Wayang Kulit Pucung, Suyono, mengatakan, di wilayahnya ada sekitar 350 perajin wayang kulit yang sudah berusia

Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/Neti Istimewa Rukmana
Sejumlah wisatawan sedang melihat produk wayang di Omah Maju Karya, Jalan Imogiri Timur Kilometer 14, Pucung, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Selasa (26/12/2023). 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pelaku perajin atau pembuat wayang kulit dari kalangan generasi muda, perlahan-lahan mulai jarang dijumpai.

Hal itu, memicu minimnya regenerasi pembuatan wayang kulit.

Kondisi tersebut, dirasakan oleh sejumlah perajin wayang kulit di Padukuhan Pucung, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, sejak beberapa waktu lalu, hingga saat ini.

Baca juga: Berikut Ini LINK Live Streaming Final Liga 3 DIY, Persiba Bantul vs PS Hizbul Wathan

Ketua Paguyuban Perajin Wayang Kulit Pucung, Suyono, mengatakan, di wilayahnya ada sekitar 350 perajin wayang kulit yang sudah berusia di atas 30 tahun.

"Dari total perajin itu, hanya ada sekitar 10 persen generasi muda yang berpartisipasi melestarikan wayang kulit," katanya di Padukuhan Pucung, Selasa (26/12/2023).

Pihaknya pun tidak tahu secara pasti, mengapa generasi muda pada saat ini mulai minim berkontribusi dalam membuat atau berpofesi sebagai perajin wayang kulit.

"Mungkin karena proses pembuatannya yang butuh ketelatenan dan memakan cukup waktu. Jadi, mungkin saja itu membuat generasi muda untuk tidak memilih profesi sebagai perajin wayang kulit," tutur Suyono.

Kondisi itu tidak membuat Suyono tinggal diam.

Pihaknya bersama Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Bantul berupaya memberikan materi atau mata pelajaran muatan lokal tentang wayang kulit kepada para siswa siswi sekolah dasar (SD).

Mata pelajaran muatan lokal tentang wayang kulit itu, utamanya diberikan kepada para siswa siswi di sejumlah SD yang ada di Pucung.
 
"Kami ingin, pemahaman siswa tentang wayang kulit itu didapatkan sedini mungkin. Dari situ, kemudian diharapkan muncul rasa cinta akan produk-produk lokal dan mau berkontribusi untuk melestarikannya," jelas dia.

Tidak hanya itu saja, sebagai langkah untuk menggaet regenerasi perajin wayang kulit, pihaknya turut membuka sanggar wayang kulit.

"Sanggar itu kami sediakan untuk umum. Artinya, kami memberikan fasilitas mulai dari bahan, alat dan lain sebagainya dengan harapan regenerasi itu timbul atau ada," tutur Suyono yang juga merupakan pemilik Omah Maju Karya.

"Kami juga menjual edukasi paket wayang. Edukasi itu juga sebagai bentuk pengenalan produk wayang maupun tata cara pembuatannya dengan tujuan mengajak masyarakat untuk cinta produk wayang dan mau melestarikannya," tutup dia. (nei)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved