Sejarah Kereta Medis Dunia dan Kereta Poliklinik QL-54 Milik Indonesia

Operasional kereta api untuk kepentingan medis sering kali diselenggarakan terutama dalam situasi konflik.

Penulis: Santo Ari | Editor: Muhammad Fatoni
Dok.KAI
Kereta Poliklinik QL-54 

TRIBUNJOGJA.COM - Dalam sejarah perkembangan kereta api, tak hanya berbicara tentang lokomotif saja. Namun ada kereta atau gerbong yang ikonik dan juga memiliki nilai sejarah.

Saat ini kita mengenal rail clinic kepunyaan KAI. Kereta ini memiliki fasiltas yang lengkap.

Kereta ini mampu melakukan pemeriksaan umum, gigi, cek kehamilan, pemeriksaan laboratorium, serta pelayanan kefarmasian.

Namun jauh sebelumnya, kereta medis memiliki sejarah yang cukup panjang dan menarik.

Sejarah kereta api medis

Operasional kereta api untuk kepentingan medis sering kali diselenggarakan terutama dalam situasi konflik.

Rusia merupakan negara yang pertama kali mengoperasionalkan rangkaian kereta api medis dalam perang melawan Jepang pada awal Abad ke-20.

Dalam laman KAI disebutkan, sepanjang 1904-1905 Kaisar Nikolai II memerintahkan sebagian dari 24.844 jenazah prajurit dan 146.519 korban luka-luka untuk diangkut dengan kereta api menuju Moskow melalui jalur trans Siberia dari medan perang Manchuria.

Sejak saat itu peranan kereta api dalam membantu dunia kedokteran semakin penting.

Peran kereta api dalam Perang Dunia I dan II tidak hanya untuk mengangkut suplai tenaga medis dan obat-obatan, tetapi juga beralih fungsi menjadi rumah sakit darurat di lapangan untuk merawat dan mengoperasi korban pertempuran.

Baca juga: Mengenal Sejarah Lokomotif Uap BB10 yang Mampu Melaju dengan Kecepatan 45 km/jam

Sejarah kereta medis di Indonesia

Di Indonesia sendiri pembuatan rangkaian kereta api atau kereta khusus medis/ poliklinik produksi pabrik sebenarnya tidak pernah ada.

Pada 1924 kereta trem poliklinik pertama kali diluncurkan meski sifatnya bukan sebagai kereta poliklinik permanen.

Saat itu sebuah yayasan bernama Dono Rodjo menyewa rangkaian kereta trem Oost Jawa Stoomtram Maatschappij dalam misi kampanye kesehatan untuk memberantas penyakit Lepra di masyarakat.

Selain itu, pada masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia (1945-1949) Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) pernah mengoperasikan beberapa gerbong dan kereta untuk kepentingan medis dan penyuluhan kesehatan di Jawa.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved