Di Tangan Para Pelajar eLHaeS, Tak Ada Lagi Sampah yang Mubazir
SDIT Luqman Al Hakim Sleman menyelenggarakan Gelar Karya P5 yang mengusung tema eLHaeS Berkarya dan Berbudaya Bersama Merdeka Belajar
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Persoalan sampah masih menjadi tantangan serius di berbagai kota-kota besar di Indonesia. Termasuk di antaranya di Yogyakarta, yang juga menghadapi masalah serupa. Ini terjadi utamanya ketika TPA Piyungan terpaksa tutup akibat tak mampu lagi menampung kiriman sampah. Akibatnya depo-depo dipenuhi tumpukan sampah. Di saat bersamaan, sampah-sampah ini tak bisa dikirim ke tempat pembuangan akhir lantaran sudah melebihi kapasitas.
Persoalan ini pula yang menjadi salah satu fokus perhatian utama Pemda DIY. Salah satunya dengan mendorong kabupaten dan kota di DIY agar mampu melakukan pengelolaan sampah secara mandiri mulai 2024 mendatang.
Berbagai kalangan meyakini bahwa permasalahan sampah ini dapat diminimalisir dengan melakukan penyadaran diri, mulai dari diri sendiri, hingga level terkecil di tingkat keluarga.
Hal itulah yang dilakukan di SDIT Luqman Al Hakim Sleman lewat acara Gelar Karya P5 yang mengusung tema 'eLHaeS Berkarya dan Berbudaya Bersama Merdeka Belajar'.
Mereka memperkenalkan sejak dini bagaimana setiap siswa bertanggung jawab pada lingkungannya, termasuk dalam pengelolaan sampah. Secara praktis, para siswa diperkenalkan dengan prinsip reduce, reuse, dan recycle dalam mengelola sampah.
Sehingga dengan demikian, tidak ada lagi sampah yang mubazir. Bahkan sampah-sampah itu disulap menjadi barang berharga yang bisa digunakan kembali.
Dalam kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (25/11/2023) tersebut, dipamerkan berbagai karya siswa dalam kategori Kearifan Lokal dan Gaya Hidup Berkelanjutan.
Semisal dari para pelajar kelas 1 lewat proyek bertajuk 'Sampahku Tanggungjawabku'.
Mereka memamerkan totebag canvas yang dipercantik dengan aneka warna. Totebag itu bisa digunakan untuk membawa belanjaan sehingga bisa mengurangi penggunaan kantong plastik.
Ada pula yang memamerkan karya berupa mainan yang terbuat dari sampah plastik.
Demikian pula dengan para pelajar kelas 4. Melalui proyek bertajuk 'Cerdas Mengolah Sampah Organik', para pelajar ini menyulap berbagai sampah organik menjadi produk eco-enzym.
Sebagai informasi, cairan ini dihasilkan dari proses fermentasi limbah dapur organik semisal buah-buahan dan sayuran, dengan gula merah atau gula tebu, dan air. Eco-enzym ini bisa dimanfaatkan untuk pupuk organik, filter air, bahkan bisa juga digunakan untuk pembersih kerak di toilet dan sabun lantai.
Tak hanya soal sampah, dalam kegiatan ini dipamerkan pula berbagai produk lain semisal jamu yang dibuat oleh para pelajar kelas 5. Serta festival jajanan pasar yang dibawakan oleh para pelajar kelas 2.
Terkait hal itu, Kepala Sekolah SDIT Luqman Al Hakim Sleman, Novi Afriadi, S.H.I., M.Pd mengatakan bahwa gelar karya tersebut telah memberikan hasil yang menggembirakan. Para siswa bisa belajar sekaligus praktik dalam membuat karya. Mereka juga diberikan wadah untuk memamerkan hasil-hasil karyanya. Namun yang paling penting menurut dia adalah bagaimana para siswa bisa memeroleh kesadaran untuk peduli terhadap lingkungannya, peduli terhadap permasalahan sampah, serta peduli dan mencintai budayanya.
Senada, Koordinator Wilayah Dinas Pendidikan Kepanewonan Ngaglik, Ismartiningsih S.Pd., M.Pd, menyebut bahwa kegiatan ini bisa membentuk kemandirian para peserta didik di kemudian hari. Hal ini akan memperkaya ilmu yang diperoleh para pelajar selama menimba ilmu di sekolah. Hal yang sama disampaikan Pengawas SD Dinas Pendidikan Kepanewonan Ngaglik, Isti Turniasih, S.Pd. Dia mengapresiasi kegiatan Gelar Karya ini, terlebih karena berlangsung meriah dan disambut antusias oleh para peserta didik. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Gelar-Karya-SDIT-Luqman-Al-Hakim-Sleman_3.jpg)