Band Hardcore Punk asal Jogja yang Diperkuat 2 Bass

Setelah merilis demo pada 7 Juli 2023 lalu, mereka telah mendapatkan formasi baru menjadi sebuah band kuartet yang masing masing posisi diisi oleh Abi

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Santo Ari | Editor: Kurniatul Hidayah
dokpri
D.E.T.H Band Powerviolence Hardcore Asal Jogja 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Jogja selalu melahirkan band-band baru yang patut diperhitungkan.

Terkini, ada D.E.T.H band bergenre hardcore punk infused powerviolence yang terbentuk pada awal 2023.

D.E.T.H hadir untuk menambah daftar band diluar nalar yang ada di Jogja.

Pasalnya, band yang beranggotakan empat personel ini minus gitar dan mengandalkan dua bass.

Meski terbilang baru, D.E.T.H sudah beberapa kali lepas pasang personil. 

Setelah merilis demo pada 7 Juli 2023 lalu, mereka telah mendapatkan formasi baru menjadi sebuah band kuartet yang masing masing posisi diisi oleh Abilowo (Bass 1), Rafi (Bass 2), Umar (Drums) dan terakhir member baru dari band ini, Bayu (Vokal).  

Baca juga: Triumph T5 dengan Kombo Teleskopik dan Spring Wheels, Jadi Motor Ternyaman di Eranya

Menarik ke belakang, Umar (drum) menceritakan band ini terbentuk dari hasil obrolan di tongkrongan burjo.

“Awalnya dari teman kampus ngobrol di burjo, daripada nggak ngapa-ngapaiin tercetus untuk membuat band,” katanya.

Dipengaruhi oleh band band seperti World Peace, SPY, Witchcult, Freedom dan The Flex membuat D.E.T.H sepakat untuk mengkombinasikan komposisi musik hardcore punk, ragging, dan stomp punk ke dalam riff-riff yang dieksekusi oleh dua instrument bass dengan output sound yang kasar dan kotor.

Gayung bersambut, masuklah Rafi sebagai bass kedua dari band tersebut.  

“Awalnya ingin bikin powerviolence karena referensinya, selain itu kami juga banyak dengerin band double bass. Tapi pengennya yang bisa buat moshpit,” katanya.
 
D.E.T.H pun menjadi seperti yang sekarang, double bass dipadukan dengan ritmis drum yang amburadul bak mendengarkan freejazz yang penuh dengan blast beat, tempo yang naik turun, dan vocal yang kasar di balut dengan efek echo yang tebal.

Abi menambahkan, meski banyak band pendahulu menggunakan dua bass, namun formasi tersebut tetap terbilang jarang. Ia melihat itu sebagai sebuah keunikan sekaligus gimmick dengan jargon 2 bass no skill no guitar.

“Karena sebuah band bisa tanpa gitar dengan hanya memakai dua bass. Kenapa no skill, dalam artian musik itu luas, abstrak dan tidak melulu tentang skill. Musik kita juga tidak melulu rapi,” katanya.

Rafi menambahkan, dua bass di sini jalan masing-masing dan saling melengkapi. Dirinya bertugas di sisi distorsi bass, sementara Abi didapuk untuk mengincar suara gitar lewat efek dan bass custom-nya.

Rafi sendiri sebenarnya pendengar trash metal dan death metal, setelah diajak masuk ke band ini, ia pun mencoba mengulik hardcore punk, powerviolence sesuai konsep awal band ini terbentuk.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved