Debit Air Berkurang, Musim Tanam Padi di Kulon Progo Berpotensi Mundur
Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) setempat pun mengkaji kemungkinan mundurnya musim tanam dari jadwal semestinya
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Musim kemarau panjang kali ini diperkirakan berdampak pada musim tanam padi di Kabupaten Kulon Progo.
Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) setempat pun mengkaji kemungkinan mundurnya musim tanam dari jadwal yang semestinya.
Staf Produksi dan Perlindungan, Bidang Produksi dan Perlindungan Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan DPP Kulon Progo, Heri mengatakan ada 2 kapanewon yang musim tanamnya diprediksi mundur.
"Keduanya adalah Nanggulan dan Kalibawang," ungkapnya pada wartawan, Senin (06/11/2023).
Adapun lahan sawah di dua kapanewon ini terbilang luas. Sebagai gambaran, luas lahan tanam padi di Nanggulan mencapai kurang lebih 352 hektare (ha).
Menurut Heri, musim tanam padi diprediksi mundur karena sejumlah faktor.
Salah satunya karena debit air di saluran Kalibawang yang berkurang.
"Kondisi tersebut membuat aliran air untuk irigasi belum maksimal," jelasnya.
Heri juga mengatakan masa pengolahan lahan ikut berpengaruh.
Sebab saat ini para petani belum mulai mempersiapkan lahan untuk tanam padi dengan alasan minimnya tenaga.
Pihaknya pun terus mendorong agar para petani mulai mempercepat pengolahan lahan.
Langkah tersebut akan membuat musim tanam padi juga bisa lebih cepat.
"Sosialisasi terus kami lakukan lewat jajaran penyuluh pertanian di lapangan," kata Heri.
Pelaksana Tugas Kepala DPP Kulon Progo, Trenggono mengatakan mundurnya masa tanam palawija juga membuat masa tanam padi ikut mundur. Khususnya di Nanggulan dan Kalibawang.
Ia juga menyebut kondisi lahan untuk sawah saat ini terlalu kering akibat musim kemarau panjang.
Hal ini juga membuat proses pembasahan lahan sawah lebih lama, dan membutuhkan lebih banyak air.
"Yang dibutuhkan adalah kedisiplinan petani dalam melaksanakan tata tanam," ujar Trenggono.(*)
