Pengamat Energi UGM Sebut Perlu Ada Solusi Untuk Atasi Disparitas Harga Pertamax dan Pertalite
Pertamina menaikkan harga sejumlah BBM non subsidi, salah satunya Pertamax. Harga Pertamax naik dari Rp13.300 menjadi Rp14.000 per liter.
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Kurniatul Hidayah
Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pertamina menaikkan harga sejumlah BBM non subsidi, salah satunya Pertamax. Harga Pertamax naik dari Rp13.300 menjadi Rp14.000 per liter.
Menurut Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi disparitas harga Pertamax dengan Pertalite terbilang tinggi.
Hal itu memicu migrasi konsumen Pertamax ke Pertalite, khususnya konsumen kelas menengah.
"Disparitas harganya kan terbilang tinggi, terpaut Rp4.000. Tentu ini akan memicu migrasi Pertamax ke Pertalite, terutama konsumen kelas menengah. Karena selisihnya kan lumayan besar. Kalau untuk yang punya mobil-mobil mewah, tentunya akan bertahan pakai Pertamax," katanya, Kamis (05/10/2023).
Baca juga: Cerita Istri Korban AS di Bantul yang Meninggal Dunia Seusai Konsumsi Miras
Menurut dia, hal ini perlu diantisipasi. Salah satunya dengan penambahan kuota Pertalite.
Pasalnya jumlah konsumsi Pertalite akan bertambah hingga dua kali lipat. Jika kuota Pertalite tidak ditambah, dikhawatirkan akan terjadi kelangkaan Pertalite.
Ia mengakui kenaikan harga Pertamax memang tidak bisa dihindari karena menggunakan mekanisme pasar. Harga Pertamax sangat dipengaruhi oleh harga minyak dunia.
"Dilematis juga buat pemerintah, karena menggunakan mekanisme pasar. Tetapi disparitas harga ini memang harus diatasi. Bisa dengan menaikkan harga Pertalite, misal naik jadi Rp12.000. Tapi naik Rp2.000 saja untuk Pertalite bisa memicu inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat," terangnya.
Jika menaikkan harga Pertalite dianggap tidak memungkinkan, terutama di tahun politik. Pembatasan Pertalite bisa menjadi alternatif lain.
"Tetapi kan kalau pakai MyPertamina itu kan terbukti tidak efektif. Masih banyak yang akhirnya salah sasaran. Yang bisa dilakukan efektif dan sederhana adalah membatasi Pertalite hanya untuk motor dan angkutan. Jadi mobil-mobil pribadi itu dipaksa pakai Pertamax," imbuhnya. (maw)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Pertamax-Green-95-Dijual-Perdana-di-10-SPBU-Wilayah-Surabaya.jpg)