Puisi Joko Pinurbo

Puisi Selepas Usia 60 Joko Pinurbo: Selepas usia 60 saya sering terdiam di muka jendela

Puisi Selepas Usia 60 Joko Pinurbo: Selepas usia 60 saya sering terdiam di muka jendela

Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Yudha Kristiawan
TRIBUNJOGJA.COM
Peluncuran buku Epigram 60 karya Joko Pinurbo di Toko Buku Gramedia. Puisi Selepas Usia 60 Joko Pinurbo: Selepas usia 60 saya sering terdiam di muka jendela 

Puisi Selepas Usia 60 Joko Pinurbo

 

Selepas usia 60 saya sering terdiam di muka jendela,

mengamati tingkah anak kecil yang lucu-lucu.

Saat sekecil mereka saya baru fasih mengucapkan nana,

maksudnya celana, dan saya belajar keras memakai celana

dan sering keliru: kadang terbalik, kadang seliritnya

menjepit dindaku. Ibu curang: diam-diam mengintip

lewat celah pintu. Baru setelah ananda terjengkang

karena dua kaki masuk ke satu lubang, ibu buru-buru

menyayang-nyayang pantatku: Jangan menangis,

jagoanku. Celana juga sedang belajar memakaimu.

Kasihan ibu, sering didera kantuk hingga jauh malam,

menjahit celana saya yang cidera.

Sampai sekarang kadang tusukan jarumnya, auw…,

masih terasa di pantat saya.

Saya masih berdiri di muka jendela, memperhatikan

seorang bocah culun, dengan celana bergambar Superman,

sedang ciat-ciat bermain silat. Tiba-tiba ia berhenti.

Bingung. Seperti ada yang tidak beres dengan celananya.

Oh, gambar Superman-nya rontok. Ia cari, tidak ketemu.

Lalu ibunya datang menjemput. Senja yang dewasa

mulai merosot. Tubuh yang penakut mendadak ribut.

Yeah, ini celana diam-diam mau melorot. Saat mau tidur

baru saya tahu: hai, ada gambar Superman di celanaku.

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved