Filsafat

Aliran-aliran Filsafat Islam Menurut Haidar Bagir

Filsafat Islam merupakan pemikiran kritis tentang alam semesta yang didasari oleh ajaran agama Islam baik Al Quran maupun hadits.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Ikrob Didik Irawan
zoom-inlihat foto Aliran-aliran Filsafat Islam Menurut Haidar Bagir
Pinterest
Aliran-aliran Filsafat Islam Menurut Haidar Bagir

Salah satu ciri utama peripatetisme adalah epistemologinya yang berlandaskan pada metode logis Aristotelian, yang bersifat diskursif-demonstrasional. 

Dalam Peripatetisme, proses silogistik tersebut didasarkan atau dimulai dari premis premis yang telah disepakati sebagai kebenaran yang tak perlu dipersoalkan lagi (primary truth). 

Dari sini kemudian dapat diperoleh kebenaran-kebenaran yang, pada gilirannya, akan menjadi premis-premis baru bagi proses silogistik selanjutnya.

3. Iluminisme (Isyrâqiyyah)

Gagasan tentang suatu iluminasi Ilahi dalam pikiran, yang merupakan inti aliran iluminisme telah berkembang dalam sejarah, baik dalam konteks filosofis maupun keagamaan.

Metode yang digunakan oleh Iluminisme dan Sufisme atau Teosofi (‘Irfân) adalah metode intuitif atau eksperiensial (berasal dari kata experience = pengalaman).

Prinsip dasar Iluminisme adalah bahwa mengetahui sesuatu adalah untuk memperoleh suatu pengalaman tentangnya, yang berarti intuisi langsung atas hakikat sesuatu. 

Bahwa pengetahuan eksperiensial tentang sesuatu dianalisis yakni, secara diskursif (logis) demonstrasional hanya setelah diraih secara total, intuitif, dan langsung (immediate). 

Para filosof Isyrâqiyyah berbicara tentang suatu kilatan mendadak pemahaman atau ilham dalam pikiran.

4. Sufisme/ Teosofi (Tasawwuf atau ‘Irfân)

Perbedaan Iluminisme dengan Sufisme dalam hal ini adalah ‘irfân (teosofi) antara lain adalah bahwa, meskipun sama-sama mengandalkan pada pengalaman langsung, Iluminisme tak seperti tasawuf (non-‘irfân) percaya pada kemungkinan pengungkapan pengalaman tersebut melalui bahasa-bahasa diskursif-logis. 

Dalam ‘irfân, yang ditekankan dan sekaligus yang membedakannya dengan tasawuf biasa yang tidak secara khusus membahas persoalan wujud qua (sebagai wujud) adalah prinsip kesatuan wujud segala sesuatu dan tingkatan-tingkatan (hierarki)-nya. 

Ontologi Iluminisme berlandaskan filsafat cahaya (nûr), yakni pengidentikkan wujud dengan cahaya, dan non wujud atau nirwujud dengan kegelapan. 

Di antara keduanya terdapat lapisan lapisan wujud antara cahaya dan kegelapan.

5. Filsafat Hikmah (Al-Hik mah Al-Muta‘âliyah)

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved