Filsafat
PROFIL Jean Paul Sartre, Filsuf yang Dikenal Mendewakan Kebebasan
Jean Paul Sartre adalah seorang filsuf abad 20 yang dikenal sangat mendewakan kebebasan.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM - Jean Paul Sartre adalah seorang filsuf abad 20 yang dikenal sangat mendewakan kebebasan.
Sartre dilahirkan di Kota Paris, Perancis pada 21 Juni 1905 lalu.
Orang tuanya menikah beda agama, ayahnya adalah seorang Katolik taat sedangkan ibunya menganut agama Protestan.
Namun, hidup dalam lingkungan yang religius tidak membuat Sartre menjadi religius, kebalikannya justru ia antiagama dan Tuhan.
Sejak kecil, Sartre memiliki fisik yang sangat lemah dibandingkan teman-teman seusianya.
Baca juga: 25 Kata Bijak Filsuf Nietzsche Soal Kehidupan yang Rumit
Karena kondisi fisiknya itu, Sartre sering dihina oleh teman-temannya di sekolah.
Meskipun begitu, Sartre tumbuh menjadi anak yang memiliki otak cemerlang.
Dia sering menghabiskan waktunya untuk berkhayal dan berkontemplasi terhadap banyak hal.
Berkat kecerdasan dan ketekunannya itu, pada 1931-1933 Sartre diangkat menjadi guru besar filsafat di Lyeum, Le Havre.
Filsafat Sartre banyak dipengaruhi oleh Husserl, seorang filsuf yang ditemuinya di Jerman.
Di samping menjadi seorang filsuf, Sartre merupakan sastrawan yang cukup terkenal dengan pandangan-pandangannya yang khas.
Bahkan, Sartre pernah menolak menerima hadiah Nobel Kesusastraan, karena ia memandang hadiah itu akan membatasi kebebasannya sebagai penulis.
Bagi Sartre, manusia merupakan eksistensi yang bebas yang memiliki kemauan untuk berkembang sebagai individu tanpa terbelenggu masa lalu.
Manusia tidak memiliki apa-apa saat dilahirkan dan selama hidupnya tidak lebih hasil perhitungan dari kehidupannya di masa yang lalu.
Aliran eksistensialisme Sartre dipengaruhi oleh tiga pemikiran pokok, yaitu Marxisme, Eksistensialisme, dan Fenomenologi.
Sartre yang merupakan pecinta kebebasan ini menganggap bahwa kebebasan adalah satu-satunya sumber nilai.
Bahkan, Sartre tidak mempertahankan paham kebebasannya dengan teori saja.
Dia tidak segan menarik segala konsekuensi praktis dari anggapannya tentang kebebasan.
Semasa hidupnya, Sartre sangatlah produktif.
Dia menulis banyak sekali buku, karya yang paling terkenal berjudul “Being and Nothingness”.
Buku ini berisi esai mengenai masalah dan kompleksitas eksistensi manusia.
Sartre sering menghabiskan waktunya untuk menulis di kafe bersama dengan kekasihnya, Simone de Beauvoir yang juga seorang filsuf.
Kemudian, Sartre meninggal pada 15 April 1980 yaitu di usia 74 tahun.
Lima tahun setelah kepergian Sartre, Beauvoir menulis buku berjudul “Adieux: A Farewell to Sartre” untuk mengenang kekasihnya itu.
Dikutip dari buku “Eksistensialisme Jean Paul Sartre: Sumur Tanpa Dasar Kebebasan Manusia” karya Drs. H. Muzairi, M.A
(MG Indah Yulia Agustina)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.