Sejak Pakai Sinar Matahari, Kami Tak Perlu Beli Pulsa Listrik Lagi

Tidak hanya menyinari, sinar matahari ini juga bisa mengairi petak-petak ladang petani sehingga tetap produktif sepanjang tahun

ist
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang digunakan untuk menyalakan pompa di kelompok tani Lestari Bulak Sawah di Kelurahan Ngawu, Kapanewon Playen, Gunungkidul 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ikrob Didik Irawan

TERIK matahari di Gunungkidul, DI Yogyakarta yang panas dan kering juga bisa menjadi berkah bagi para petani di kabupaten berjuluk Jogja Lantai 2 ini. Tidak hanya menyinari, sinar matahari ini juga bisa mengairi petak-petak ladang petani sehingga tetap produktif sepanjang tahun.

Ladang seluas sekitar 10 hektare di Kelurahan Ngawu, Kapanewon Playen, Gunungkidul tampak hijau di musim kemarau. Di ladang ini tumbuh subur tanaman padi, kacang tanah, jagung, hingga kangkung.

Para petani di kelompok tani Lestari Bulak Sawah di Kelurahan Ngawu, Kapanewon Playen, Gunungkidul
Para petani di kelompok tani Lestari Bulak Sawah di Kelurahan Ngawu, Kapanewon Playen, Gunungkidul (ist)

Ladang dikelola oleh kelompok tani Lestari Bulak Sawah. Di bagian tengah ladang, terdapat bangunan kecil yang mungkin orang mengira itu adalah gubug tempat berteduh.

Bangunan itulah rahasia di balik suburnya ladang tersebut. Bangunan itu adalah panel-panel surya yang digunakan untuk menangkap sinar matahari, kemudian diubah menjadi energi listrik.

Energi listik ini dipakai untuk menyalakan pompa yang menyedot air dari sumur bor sedalam 50 hingga 100 meter. Air tanah kemudian dialirkan ke ladang-ladang warga.

“Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) ini adalah bantuan dari sebuah kampus di Yogyakarta awal 2022. Dampaknya sangat kami rasakan karena bisa memangkas biaya produksi,” kata Suyatno, Ketua Kelompok Tani Lestari Bulak Sawah kepada Tribun Jogja, Rabu 30 Agustus 2023.

Gonta-ganti

Menurut Suyatno, sebelum dipasang PLTS ini, para petani sempat bergonta-ganti sumber energi untuk menyalakan pompa air. Awalnya, pompa menggunakan bahan bakar solar.

Namun muncul kendala karena untuk mendapatkan solar tidak gampang, harus ada berbagai syarat. Selain itu BBM solar ini juga lebih boros. Dan tentu saja tidak ramah lingkungan.

“Kemudian berganti menggunakan listrik PLN. Hasilnya memang lebih hemat. Karena untuk mengairi sawah, biaya membeli pulsa listrik lebih murah ketimbang pakai BBM,” ujarnya.

Namun ternyata, ada yang lebih murah lagi karena tak perlu beli pulsa listrik. Sebab, listrik sudah diberikan oleh alam yakni lewat matahari.

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang digunakan untuk menyalakan pompa di kelompok tani Lestari Bulak Sawah di Kelurahan Ngawu, Kapanewon Playen, Gunungkidul
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang digunakan untuk menyalakan pompa di kelompok tani Lestari Bulak Sawah di Kelurahan Ngawu, Kapanewon Playen, Gunungkidul (ist)

“Sejak pompa dinyalakan pakai listrik tenaga matahari, kami tidak pernah beli pulsa listrik lagi. Sehingga biaya produksi bisa dipangkas,” katanya.

Sebagai gambaran perbandingan, saat menggunakan BBM solar, pembelian 10 liter atau Rp 68.000 digunakan untuk menyalakan pompa selama sekitar 14 jam.

Kemudian saat BBM diganti dengan listrik PLN, untuk menyalakan pompa selama 14 jam hanya mengeluarkan Rp20.000 ribu. Kemudian saat diganti lagi dengan PLTS, tidak perlu membeli pulsa listrik sama sekalai alias Rp0.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved