UPDATE Kasus Perkelahian 2 Lawan 2 yang Tewaskan 3 Orang: Minim Saksi, Polisi Minta Keterangan Kades

Untuk mengungkap kasus perkelahian dua lawan dua itu, Satreskrim Polres Bengkulu Selatan mengundang Kepala Desa Sebilo, Enudi Rahyan pada Rabu

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Yoseph Hary W
via Tribunnews.com
Ilustrasi kriminal 

TRIBUNJOGJA.COM - Kasus perkelahian dua lawan dua yang menewaskan tiga orang di Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu, masih dalam penyelidikan jajaran kepolisian. 

Minimnya saksi menjadi kendala polisi untuk mengungkap motif dan kronologi perkelahian berdarah yang berujung tragis tersebut. 

Jajaran Satreskrim Polres Bengkulu Selatan bahkan belum bisa menyampaikan keterangan resmi terkait duduk perkara kasus pertarungan bersenjata tajam yang memakan korban jiwa tiga orang tersebut. 

Ilustrasi berkelahi
Ilustrasi berkelahi (Kompas.com)

Baca juga: Perkelahian Kakak Beradik Lawan Dua Bersaudara: Dodi, Jono, dan Kani Tewas, Liperado Kritis

Untuk mengungkap kasus perkelahian dua lawan dua itu, jajaran Satreskrim Polres Bengkulu Selatan mengundang Kepala Desa Sebilo, Enudi Rahyan pada Rabu (16/8/2023).

Keterangan Kades Desa Sebilo pun mengungkap beberapa informasi penting yang notabene berbeda dari laporan awal terkait kejadian perkelahian berdarah itu. 

Disebutkan, perkelahian di area persawahan itu memang memakan korban tiga orang dan satu orang kritis. 

Identitas korban tewas duel maut dua lawan dua bersenjata tajam, yang terjadi pada Senin (14/8/2023), itu adalah kakak adik Juni (41) dan Dudi (40), warga Desa Padang Mumpo dan Kani (51). 

Satu orang dalam kondisi kritis adalah Een Fernando (29), anak dari Kani, laporan kompas.com dikutip Tribun Jogja hari ini.

Informasi sementara menyebutkan perselisihan itu terjadi diduga karena saling klaim kepemilikan sawah di Desa Sebilo, Kecamatan Pino.

Namun demikian polisi belum mengeluarkan keterangan resmi terkait penyebab duel maut ini karena minimnya saksi mata dan saksi Een belum bisa berkomunikasi.

Polisi masih meminta keterangan kepala desa, asal keempat petani tersebut.

Enudi Rahyan mengatakan, lokasi perkelahian keempatnya merupakan areal persawahan yang jauh dari pemukiman.

"(Saya tahu) adanya kasus pembunuhan ini karena salah satu korban yang selamat menelepon warga lain. Dari situlah, saya bersama warga lainnya mendatangi lokasi dan menemukan tiga orang telah meninggal dan satu lagi terluka parah," ungkap Enudi saat ditemui di Mapolres Bengkulu Selatan, Rabu.

Enudi dalam keterangannya mengaku hanya tahu bahwa kedua belah pihak memiliki masalah terkait sengketa kepemilikan lahan sawah.

Menurutnya, korban tewas Juno telah membeli sawah pada 2015 dari seseorang dan dia memiliki surat kepemilikan lahan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved