Berita Sleman Hari Ini

Angka Kebakaran Lahan di Sleman Meningkat Drastis, Dipicu Pembakkaran Sampah 

Angka Kebakaran lahan di Bumi Sembada musim kemarau tahun 2023 ini,-- dari catatan Pemadam Kebakaran Sleman,--mengalami peningkatan drastis dibanding

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Sleman 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Angka Kebakaran lahan di Bumi Sembada musim kemarau tahun 2023 ini,-- dari catatan Pemadam Kebakaran Sleman,--mengalami peningkatan drastis dibanding tahun 2022 lalu.

Peningkatan musibah ini dipicu karena perilaku membakar sampah yang tidak dikendalikan.

asyarakat diminta memperkuat pengawasan perilaku membakar sampah di lingkungan masing masing, atau tidak membakar sampah agar tidak menimbulkan kerugian yang jauh lebih besar. 

Baca juga: Sebanyak 38 Siswa Calon Paskibraka Sleman Jalani Pemusatan Latihan 

Kasi Ops dan Investigasi Damkar Sleman, Nawa Murtiyanto mengungkapkan, ada 104 kejadian kebakaran di Kabupaten Sleman, sepanjang Januari hingga 8 Agustus 2023.

Jumlah tersebut naik 30 persen dibanding periode yang sama tahun 2022 yaitu 77 kejadian. Dari 104 kejadian kebakaran di Sleman, 30 kejadian di antaranya merupakan kebakaran lahan.

Jumlah ini mengalami peningkatan drastis dibanding tahun sebelumnya yang tercatat hanya 9 kejadian kebakaran lahan dalam setahun. 

"(Kebakaran lahan) Ini selama 7 bulan ini ada 30 kejadian, meningkat sangat drastis," kata Nawa, Kamis (10/8/2023). 

Mayoritas kebakaran lahan ada di wilayah Sleman bagian timur. Seperti Kapanewon Ngaglik, Ngemplak, Depok, Berbah, Kalasan dan Prambanan dengan jumlah 22 kejadian. Sedangkan kejadian lainnya tersebar di Sleman bagian tengah dan Utara. Meliputi Sleman, Mlati, Pakem dan Turi. Penyebab kebakaran lahan, kata dia, karena perilaku pembakaran sampah yang tidak dikendalikan. 

"Banyak bukti yang kita temukan di lapangan, yang menunjukkan itu kebakaran lahan disebabkan hal tersebut. Sampai sekarang kami tidak menemukan bukti kebakaran disebabkan faktor alam atau yang bersifat tanpa campur tangan manusia," kata dia. 

Puncak Kemarau

Berdasarkan informasi yang disampaikan BMKG, kata Nawa, bulan Agustus hingga kemungkinan September mendatang, memasuki puncak musim kemarau kering yang panjang. Artinya, tingkat kekeringan akan sampai pada titik tertingginya sehingga kelembaban akan menurun. Hal tersebut akan mempermudah material apapun mencapai titik bakarnya.

Hanya membutuhkan percikan api sedikit maka sudah bisa menimbulkan musibah kebakaran

"Ini yang perlu diperhatikan masyarakat.  Agustus - September ini mencapai fase kelembaban rendah. Lingkungan sangat kering, dan sangat mudah menimbulkan kebakaran," kata dia. 

Upaya untuk mencegah terjadinya kebakaran perlu dilakukan. Satu di antaranya, menurut Nawa, masyarakat perlu memperkuat pengawasan perilaku pembakaran sampah di lingkungan masing-masing. Pengurus wilayah, diharapkan bisa mengondisikan hal tersebut agar pembakaran sampah yang kerap dilakukan warga tidak menimbulkan kebakaran atau kerugian yang lebih besar. 

"Dari sisi regulasi sudah ada UU nomor 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah yang tidak boleh membahayakan lingkungan,  atau bahkan tidak boleh membakar sampah," ujar dia.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved