Berita Pendidikan Hari Ini

Sosiolog UGM Tanggapi Desainer Grafis Bantul Meninggal Dunia di Kamar Kos: Individualisme Tinggi

Dalam konteks desainer grafis yang meninggal dunia itu, korban mungkin sudah merasa capek tapi tidak ada yang peduli.

Tayang:
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Gaya Lufityanti
ist
Ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Beberapa waktu lalu, media sosial sempat dihebohkan dengan berita seorang desainer grafis di Bantul yang meninggal dunia di kamar kos.

Menurut penelusuran tim Tribunjogja.com , laki-laki berinisial AS (30) merupakan warga Purworejo, Jawa Tengah.

Ia meninggal dunia pada Minggu (16/7/2023) lalu dan diduga karena penyakit asam lambung yang diderita.

Menanggapi hal tersebut, Sosiolog Universitas Gadjah Mada ( UGM ), Wahyu Kustiningsih, S.Sos., M.A., mengatakan hal tersebut bisa terjadi karena adanya individualisme yang tinggi.

“Tendensinya ke individualisme. Anak kos meninggal di kos itu lumayan banyak, gak harus bunuh diri. Bisa saja, mereka sakit, tidak ada yang perhatian,” jelas Wahyu kepada Tribunjogja.com , Kamis (27/7/2023).

Dalam konteks desainer grafis yang meninggal dunia itu, kata Wahyu, korban mungkin sudah merasa capek tapi tidak ada yang peduli.

Saksi kejadian tersebut mengatakan sempat mendengar erangan dari kamar korban sekitar pukul 02.00 WIB.

Namun, hingga pukul 19.00 WIB, tidak ada pergerakan korban keluar dari kamar.

Tim medis pun menduga ia sudah meninggal sejak tiga jam sebelum ditemukan.

“Anak muda itu kebanyakan stres sendiri. Tekanan terbesar di anak muda ya pasti soal pekerjaan. Untuk mendapatkan skill pun harus punya sumber daya kan?,” jelas Wahyu.

Baca juga: Seorang Desain Grafis di Bantul Ditemukan Meninggal, Diduga Asam Lambung karena Kebanyakan Begadang

Anak Muda Rentan Kena Gangguan Kesehatan Mental

Dia mengatakan, anak muda menjadi kelompok rentan kena gangguan kesehatan mental.

Beragam faktor menjadi pemicu persoalan kesehatan mental di masyarakat termasuk, anak muda.

Mulai dari pengaruh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, persoalan sosial, ekonomi hingga budaya.

Pengalaman traumatis, termasuk kejadian buruk di masa kecil dikatakan Wahyu juga memengaruhi anak muda di seluruh dunia, tetapi sangat umum terjadi pada situasi pascakonflik atau bencana.

Pengalaman traumatis tersebut misalnya kematian orang tua, pelecehan, maupun menjadi pengungsi.

“Sebuah studi juga menyebutkan masalah kesehatan mental pada remaja berhubungan dengan tingkat pendidikan dan wilayah tempat tinggal,” beber dia.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved