Kasus Antraks di Gunungkidul

Dinkes Gunungkidul Periksa 22 Warga Terkait Dugaan Antraks di Semanu

Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul terus memantau dugaan antraks di Padukuhan Semuluh Lor, Kalurahan Ngeposari, Semanu. Dugaan ini bermula

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/Alexander Ermando
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan Gunungkidul, Sidig Hery Sukoco 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul terus memantau dugaan antraks di Padukuhan Semuluh Lor, Kalurahan Ngeposari, Semanu.

Dugaan ini bermula dari 2 warga yang mengalami gejala mirip antraks.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinkes Gunungkidul, Sidig Hery Sukoco mengatakan pihaknya sudah memeriksa 22 warga Semuluh Lor.

Baca juga: Doa-doa Hari Jumat yang Bisa Menghapuskan Dosa Sebanyak Buih Di Lautan

"22 warga ini sampel darahnya sudah diambil untuk pemeriksaan di laboratorium antraks," jelas Sidig.

22 warga ini diperiksa setelah pihaknya melakukan penelusuran. Sebab mereka diketahui ikut mengonsumsi daging kambing yang diduga terpapar antraks.

Menurut Sidig, 22 warga ini termasuk 2 warga yang awalnya dilaporkan bergejala.

Meski demikian, belum diketahui hasilnya karena pemeriksaan di laboratorium masih berjalan hingga kini.

"Kami masih menunggu hasil tesnya keluar," katanya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan dua warga yang bergejala kondisinya kini semakin membaik.

Luka yang ada pada kulitnya disebut mulai mengering.

Ia berharap masyarakat setempat dan Gunungkidul untuk memastikan kondisi kesehatan daging yang hendak dikonsumsi.

Khususnya dari paparan penyakit.

"Termasuk menjalankan pola hidup yang bersih dan sehat," kata Dewi.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul, Retno Widyastuti mengatakan kambing yang dikonsumsi disembelih saat masih hidup.

Penyembelihan dilakukan pada 26 Juni 2023, dan gejala mirip antraks dialami oleh 2 warga sekitar 2 minggu berikutnya.

Tim DPKH Gunungkidul pun sudah mengambil sampel tanah tempat penyembelihan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

"Sampel tanah kami ambil Jumat (14/07/2023) lalu, dan proses pemeriksaan bisa sepekan lebih," kata Retno. (alx)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved