Berita Jogja Hari Ini
Ahli Geologi UPN Veteran Yogyakarta Jelaskan Periode Gempabumi Akibat Sesar Opak
Wilayah Bantul hingga Sleman atau sepanjang 35 Kilometer dari kawasan Kretek ke Prambanan menjadi sorotan setelah BMKG mengungkap adanya Sesar Opak
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Wilayah Bantul hingga Sleman atau sepanjang 35 Kilometer dari kawasan Kretek ke Prambanan menjadi sorotan setelah BMKG mengungkap adanya Sesar Opak yang kini aktif dan berpotensi memicu gempa berkekuatan 6,6 magnitudo.
Hasil kajian ini pun turut direspon Ahli Geologi dan Kebencanaan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Eko Teguh Paripurna membenarkan bahwasanya Sesar Opak memang aktif dan dapat memicu terjadinya gempa.
Gempa tersebut bersumber dari dorongan besae atau megathrust zona subduksi dari gaya utara mengarah ke selatan.
"Jadi ada orde gaya turunan 1, 2 dan 3. Kalau gaya utamanya utara ke selatan, maka subduksi lempeng Samudera yang menyusup lempeng Benua dengan kecepatan tertentu akan ada gaya yang didistribusikan lewat patahan-patahan menimbulkan gempa," katanya, dihubungi, Rabu (21/6/2023)
Berbicara karakteristik patahan akibat proses geologi khususnya diwilayah DIY, menurut Eko orde gaya turunan satu dikawasan rawan gempa di DIY mencapai 30 derajat.
"Dari patahan itu ada siklusnya dan yang cukup parah dulu sampai membuat roboh Tugu Golong Gilig," jelasnya.
Kendati demikian untuk saat ini bisa dikatakan siklus gempa di Yogyakarta belum mencapai pada energi maksimal.
Energi maksimal yang dimaksud yakni berkaitan pada kekuatan magnitudo pada peristiwa gempabumi.
"Jadi dari kajian BMKG potensi magnitudo yang paling besar itu pada 6,6 sampai 6,8 magnitudo. Nah, itu skenario akumulasi energi kalau terjadi gempa. Jadi itu menjadi skenario guncangan lepasan energi maksimal saat ini," ucapnya.
"Tentu semakin ke depan akumulasi semakin banyak, boleh jadi akan bertambah," sambung Eko.
Meski demikian, menurut Eko, energi yang dihasilkan dari aktivitas geofisika yang memicu gempabumi cenderung tidak mengalami peningkatan.
"Jogja menarik, kecendrungannya disekitar itu-itu aja potensinya, ya segitulah 6,5 magnitudo saja itu bakal dilepas," ungkapnya.
Kondisi semacam ini tidak perlu dikhawatirkan masyarakat.
Justru semakin mengetahui potensi dan bahaya kegempaa, menurutnya masyarakat semakin mudah menghadapi peristiwa gempa.
Awas Periode Gempa Berulang
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Foto-Ilustrasi-gempa-bumi.jpg)