Berita Bisnis Terkini
Backlog Rumah di DIY Terus Meningkat, Indikasi Penurunan Daya Beli Masyarakat
Backlog merupakan salah satu indikator yang digunakan oleh Pemerintah sebagaimana tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) maupun RPJMN.
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Backlog perumahan di DI Yogyakarta terus meningkat.
Backlog merupakan salah satu indikator yang digunakan oleh Pemerintah sebagaimana tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) maupun Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) yang terkait bidang perumahan untuk mengukur jumlah kebutuhan rumah di Indonesia.
Dari data Direktorat Jenderal (Dirjen) Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memperlihatkan, angka backlog di DI Yogyakarta mencapai 265 ribu atau 2,1 persen mulai dari 2010-2020.
Sementara, di Jawa Tengah, angka backlog perumahan meningkat 7,4 persen dalam kurun waktu 10 tahun, mencapai 937 ribu unit.
Menurut Kepala Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan Jawa III Ditjen Perumahan, Salahudin Rasyidi, indikasi utama dari meningkatnya persentase backlog kepemilikan rumah dapat memperlihatkan adanya penurunan kemampuan daya beli masyarakat.
Baca juga: UII Tambah 2 Profesor Bidang Arsitektur dan Teknik Lingkungan
Kondisi itu terjadi di tengah situasi ekonomi yang melemah.
“Kenaikan persentase backlog di DIY ini cukup tinggi setelah Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur dan Jawa Tengah,” ujarnya saat acara Coffe Morning Lecture yang diselenggarakan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia (FTSP UII), Selasa (30/5/2023).
Untuk Jawa Barat, angka persentase backlog mencapai 22,1 persen, DKI Jakarta 11,8 persen, Jawa Timur 9,9 persen dan Jawa Tengah 7,4 persen.
Kemudian, secara nasional, backlog diproyeksi akan semakin naik hingga menembus 22,74 juta pada tahun 2045.
Salahudin mengungkapkan, banyak tantangan yang dihadapi.
Salah satunya jumlah rumah tangga yang terus bertambah dengan rata-rata pertumbuhan 700 ribu hingga 800 ribu per tahun.
Di lain sisi, proporsi kepemilikan rumah mengalami penurunan.
Penyediaan lahan juga semakin susah.
Efektivitas kelembagaan perumahan dipandang masih rendah untuk pemenuhan backlog.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Backlog-Rumah-di-DIY-Terus-Meningkat-Indikasi-Penurunan-Daya-Beli-Masyarakat.jpg)