Berita Jogja Hari Ini

Tekan Volume Limbah Organik, Pemkot Yogya Gencarkan Program Biopori Berbasis Rumah Tangga

Pemkot Yogya mulai mendorong pengelolaan sampah jenis organik, untuk menekan pembuangan limbah menuju TPA Piyungan, Bantul.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Gaya Lufityanti
Tribunjogja.com/Azka Ramadhan
Petugas kebersihan melakukan pemilahan sampah di salah satu depo di Kota Yogyakarta. 

TRIBUNJOGJA.COM - Gerakan zero sampah anorganik yang diterapkan di Kota Yogya sejak 1 Januari 2023 lalu, perlahan mulai membuahkan hasil.

Oleh sebab itu, Pemkot Yogya pun mulai mendorong pengelolaan sampah jenis organik, untuk menekan pembuangan limbah menuju TPA Piyungan, Bantul.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta , Sugeng Darmanto, menyampaikan, pada akhir 2023 pihaknya mematok target pengurangan pembuangan limbah ke TPA Piyungan 100 ton per hari.

Sehingga, setelah pembuangan limbah jenis anorganik berhasil tereduksi berkat gerakan masif tersebut, eksekutif harus mulai megelola sampah organik.

"Sampah anorganik sudah berkurang, dengan peran besar dari teman-teman bank sampah di wilayah yang begitu masif. Selanjutnya, limbah organik juga harus dikelola," cetusnya, Minggu (14/5/2023).

Sejauh ini, pengelolaan sampah organik sudah mulai dilakukan di wilayah, melalui koordinasi fasilitator dari DLH dan bank sampah .

Yakni, lewat program biopori berbasis rumah tangga, yang mengedepankan upaya pengelolaan sampah-sampah sisa dapur, ataupun makanan yang dikonsumsi penduduk.

Baca juga: Tekan Volume Sampah di Akhir 2023, Pemkot Yogya Kerahkan Seluruh OPD

"Harapan kami, cara ini dapat mendorong upaya percepatan pengurangan volume sampah dari Kota Yogya yang dibuang menuju TPA Piyungan. Ke depan bakal lebih dimasifkan lagi," katanya.

"Hasil dari pengolahan sampah organik itu, kan, bisa jadi pupuk dan dapat dimanfaatkan untuk peratanian. Sehingga, tidak begitu saja dibuang ke TPA Piyungan, karena bisa diolah," tambah Sugeng.

Sementara itu, Sekda Kota Yogyakarta , Aman Yuriadijaya menyampaikan, pihaknya kini juga tengah mendorong  pola distribusi sampah organik, sehingga tidak perlu melewati proses pengolahan panjang.

Satu di antaranya, dengan memanfaatkan jejaring kelompok ternak yang ada di Kota Yogyakarta , Sleman dan Bantul, melalui skema pemenuhan kebutuhan pakan hewan.

Menurutnya, metode tersebut sudah diterapkan untuk menyerap sampah organik hasil pemotongan pohon atau perawatan taman oleh DLH Kota Yogyakarta .

Dirinya pun memaparkan, dalam sekali giat, sampah organik yang dihasilkan bisa menyentuh 7 ton, di mana seluruhnya langsung didistribusikan.

"Tidak perlu dibuang ke Piyungan, tapi di bawa ke kelompok ternak di Bantul, selesai. Jadi, tidak perlu  pengolahan 21 hari menjadi pupuk dan itu bisa langsung termanfaatkan," ucapnya.

Bahkan, Aman sudah menerapkan metode tersebut untuk bank sampah binaannya di kawasan Warugboto, Umbulharjo, yang saat ini punya sekitar 100 anggota.

Kebetulan, di antaranya ada anggota yang memiliki usaha ternak ayam, sehingga sampah sisa dapur penduduk bisa dialokasikan ke sana.

"Sekarang sampah rumah tangga di bawa ke anggota yang punya ternak ayam. Jadi, sisa nasi, atau sayuran itu tinggal dikasihkan. Anorganik ditimbang, organiknya ditotol ayam, ya," pungkasnya. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved