Berita Bantul Hari Ini
Antisipasi Kekeringan, BPBD Bantul Siapkan Dana Rp20 Juta Hingga Bentuk Redkar
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul telah melakukan antisipasi bencana kekeringan air. Antisipasi itu dilakukan berdasarkan
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul telah melakukan antisipasi bencana kekeringan air.
Antisipasi itu dilakukan berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY, yang menyebut bahwa pada 2023 terdapat musim kemarau lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya.
"Sebagai antisipasi kekeringan air, kami sudah menyiapkan anggaran senilai Rp20 juta. Anggaran itu masih sama seperti tahun kemarin. Karena tahun kemarin tidak kami gunakan menimbang musim kemarau tidak panjang dan tahun kemarin itu masuk dalam kategori kemarau basah, sehingga tidak ada permintaan droping air," kata Kepala BPBD Kabupaten Bantul, Agus Yuli Herwanto kepada Tribunjogja.com, Sabtu (13/5/2023).
Baca juga: Polisi Periksa Saksi dan CCTV untuk Ungkap Dugaan Penembakan Gedung Puskemas Depok 1 Sleman
Langkah antisipasi selanjutnya, pihaknya melakukan perhatian terhadap kondisi bencana kekeringan pada 2023 di setiap wilayah di Kabupaten Bantul dengan menyiapkan permintaan air bersih.
Adapun perhatian utamanya diperuntukkan di wilayah yang berpotensi terjadi kekeringan, baik itu di Kapanewon Dlingo maupun Kapanewon Pajangan.
"BPBD Bantul juga menyiapkan kebutuhan air bersih jika dibutuhkan oleh masyarakat dan ada juga dari PMI, Dinas Sosial dan lain sebagainya yang turut serta membantu mengatasi kekeringan dengan menyiapkan kebutuhan air bersih," ucap Agus.
"Nanti, ketika kekeringan ada atau berlangsung, maka dari lembaga-lembaga yang memiliki sumber daya bisa dikerahkan untuk membantu ke lokasi tersebut. Tetapi kalau saat ini, kami masih fokus terhadap pemantauan wilayah dan berkoordinasi bersama pemerintah lainnya serta memberikan perhatian kepada masyarakat melalui relawan pemadam kebakaran," imbuh dia.
Supervisor pusat pengendalian operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Bantul, Aka Luk Luk Firmansyah, menambahkan, bahwa saat ini, pihaknya melalui Bidang Pemadam Kebakaran & Penyelamatan juga telah fokus melakukan antisipasi kebakaran lahan dengan melakukan peningkatan kapasitas.
"Salah satunya adalah memberikan pelatihan kepada relawan dalam bentuk relawan pemadam kebakaran (Redkar). Sehingga ketika ada kebakaran hutan, lahan maupun permukiman di masyarakat, maka relawan-relawan itu akan dimaksimalkan perannya untuk membantu petugas pemadam kebakaran di tujuh sektor atau tujuh wilayah di Kabupaten Bantul," urai Aka.
"Kemarin kami sudah melatih relawan pemadam kebakaran yang ada di Kapanewon Piyungan. Jadi di Kalurahan Srimulyo, Sitimulyo dan Srimartani. Selanjutnya ada juga di Poncosari dan Wukirsari. Tapi, pelatihan itu diberikan secara bertahap dan dipantau berdasarkan wilayah yang sering terjadi kekeringan," lanjut dia.
Disampaikannya, pembentukan Redkar itu dilakukan sebagai langkah awal dalam mengantisipasi terjadinya kebakaran.
Pasalnya, pada 2018, BPBD Bantul mencatat terdapat kebakaran lahan tertinggi di Kabupaten Bantul.
"Kebakaran itu terjadi mulai dari Juni, Juli, Agustus hingga September 2018. Di mana terdapat 62 dari 100 kejadian pada bulan-bulan tersebut merupakan kebakaran lahan dan total luasan lahan yang terbakar seluas 57 hektare dengan penyebab utama kebakaran lahan adalah karena faktor kelalaian," pungkas dia. (Nei)
Dinkop UKM DIY dan Iwapi Bantul Gelar Pameran Produk Disabilitas di Stadion Sultan Agung |
![]() |
---|
Sejumlah Titik di Bantul Longsor Terdampak Hujan Deras |
![]() |
---|
13 Orang Meninggal Karena Laka Air hingga Pekan Kedua Desember 2024, Ini Pesan Polres Bantul |
![]() |
---|
Festival Inspirasi Pendidikan Kabupaten Bantul 2024, Jadi Sarana Peringati PGRI dan HKN |
![]() |
---|
Natal dan Tahun Baru, Stok Kebutuhan LPG 3 Kg di Bantul Disebut Aman |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.