Kisah Perjuangan RA Kartini, Tokoh Pergerakan Feminis di Indonesia

Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah dan wafat pada usia muda 25 tahun pada tahun 1904

Tayang:
dok.istimewa
Kisah Perjuangan RA Kartini, Tokoh Pergerakan Feminis di Indonesia 

Ia menulis banyak surat dan artikel yang mempromosikan kesetaraan gender dan pendidikan bagi perempuan Indonesia.

Tulisannya yang terkenal adalah "Habis Gelap Terbitlah Terang" yang berisi pemikirannya tentang kesetaraan gender dan perjuangannya untuk membebaskan perempuan Indonesia dari keterbelakangan.

Pada tahun 1912, sejumlah orang yang terinspirasi oleh pemikiran dan perjuangan Kartini, mendirikan sekolah untuk perempuan di Semarang, Jawa Tengah, dengan nama "Sekolah Kartini".

Sekolah tersebut kemudian menjadi institusi pendidikan yang terkenal dan berpengaruh dalam gerakan perempuan di Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Hari Kartini pun menjadi salah satu simbol penting dalam perjuangan untuk kesetaraan gender dan hak-hak perempuan di Indonesia.

Pemerintah Indonesia kemudian menetapkan tanggal 21 April sebagai Hari Kartini untuk menghormati jasa-jasanya dan memperingati perjuangan Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan.

 Selain di Indonesia, perjuangan dan pemikiran Kartini juga diakui di tingkat internasional.

Pada tahun 1964, UNESCO menetapkan Kartini sebagai tokoh perempuan Indonesia yang patut dikenang dan menghargainya dengan menempatkan namanya dalam "Memory of the World Register".

Pada tahun 2016, Google merayakan Hari Kartini dengan menghadirkan gambar doodle yang menampilkan sosok Kartini dengan balutan kebaya dan tutup kepala tradisional.

Meskipun perjuangan Kartini terjadi pada masa lampau, namun pesan-pesan dan ide-idenya masih relevan hingga saat ini.

Kesetaraan gender dan hak-hak perempuan masih menjadi isu yang perlu terus diperjuangkan di Indonesia dan seluruh dunia.

Pemikiran dan perjuangan Kartini adalah inspirasi bagi semua orang, terutama perempuan, untuk tidak takut mengungkapkan suara dan melawan diskriminasi.

Dalam mengenang Hari Kartini, banyak kegiatan dan acara yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia.

Salah satunya adalah dengan mengenakan pakaian adat Jawa, kebaya, yang menjadi simbol dari perjuangan dan kesetiaan Kartini terhadap budaya dan tradisi Indonesia.

Selain itu, banyak sekolah dan instansi pemerintah yang mengadakan kegiatan dan seminar tentang perjuangan Kartini dan isu-isu yang terkait dengan perempuan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved