Mutiara Ramadan

Kurikulum Ramadan

Bulan suci Ramadan yang dinanti bagai menerpa kegersangan dalam diri, penantian yang selama ini dilalui telah usai

Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Guru MAN 2 Sleman Dian Alqoma SPdI 

Oleh

Dian Alqoma SPdI

Guru MAN 2 Sleman

 

SEBELAS bulan lamanya kita jalani, hidup dengan penuh urusan duniawi, panggilan jiwa tak lantas dipenuhi, salat dan zikir serta doa kerap lalai, hingga kadang tak ditunaikan atau sekadar menggugurkan kewajiban.

Hati kering kerontang, asupan spiritual dihiraukan, hingga raga pun letih, jiwa resah dan gelisah menghadapi penatnya kehidupan. Ini menjadi masalah yang harus segera diobati. Jika tidak, lambat laun akan menyebar dan memperburuk keimanan dalam diri, bisa rusak bahkan mati. 

Bulan suci Ramadan yang dinanti bagai menerpa kegersangan dalam diri, penantian yang selama ini dilalui telah usai. Suasana syahdu menenangkan hati, berbagai kebaikan dilipatgandakan, suara kebaikan selalu dikumandangkan, jiwa terlatih kembali untuk selalu beribadah dengan kesungguhan hati. 

Jadwal keseharian diubah, agenda pekerjaan menyesuaikan untuk ibadah, memaksimalkan diri untuk mendekatkan kepada sang Ilahi Rabbi. Kini dengan semangat dan besarnya rindu akan perjumpaan dengan bulan suci Ramadan menjadi pemacu untuk meraih keberkahan yang engkau janjikan. Hadirmu menjadi kesejukan bagi kami yang merindu akan berlipatganda pahala ketika beramal dengan ilmu dan iman.

Ibadah harus dimaksimalkan, segala kebaikan lekas ditunaikan, menjadi jalan keberkahan selama bulan suci ramadan. Memupuk iman bukanlah hal yang mudah, butuh kesabaran dalam menjaga dan membuatnya tumbuh mekar setiap hari. Bukan pula hal yang sulit untuk kita lakukan, dengan semangat kerinduan yang ada menjadi bekal untuk menjalankan ibadah selama bulan suci ramadan.

Rindu bukan sekadar ucapan, bukan pula bisikan tanpa makna. Rindu ialah mampu membuktikan dengan tindakan dan bisa dipertanggungjawabkan. Kita merindukan akan Ramadan, menjadi bukti bahwa kita sangat mencintai kehadirannya. Dengan rasa cinta yang menumbuhkan kerinduan, maka harus kita buktikan dengan segala kekuatan yang dimiliki. Dengan kerinduan akan bulan Ramadan maka seharusnya kita optimalkan saat berjumpa, maksimalkan agar tidak ada penyesalan. Untuk itu perlu adanya kurikulum sebagai panduan untuk memaksimalkan ibadah di bulan ramadan. 

Kurikulum Ramadan yang bisa kita laksanakan yaitu puasa, salat malam, tilawah Alquran, sedekah, berdoa, itikaf, dan umrah. Tujuh kegiatan dalam kurikulum Ramadan yang bisa kita maksimalkan untuk meraih keberkahan. 

Betapa bahagia jika kita laksanakan dengan ilmu dan iman dalam diri. Allah memberikan kemudahan yang seluas-luasnya bagi umatnya. Maka beribadahlah dengan penuh harapan untuk mendapat berkah dan ridhanya, dilandasi dengan Iman, dikuatkan degan niat dan dilaksanakan sesuai dengan tuntunan.

Dengan doa yang kita lantunkan saat memasuki awal Ramadan, sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, “Allah Mahabesar, Ya Allah tampakkan hilal itu kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam, serta taufiq yang membimbing kami menuju apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Tuhan kami dan Tuhan kamu (wahai bulan), adalah Allah.” (HR. ad-Darimi 1729). 

Untaian doa yang penuh makna, membuat hati bergetar dan meneteskan air mata. Maka perpisahan dari Ramadan menjadikan kita pribadi muslim yang lebih taat, lebih baik, berbeda dari bulan sebelumnya, dan kebaikan ini selalu terjaga untuk bulan-bulan selanjutnya. Dengan ridha dan petunjuknya, semoga iman selalu di hati, mengharap kemenangan dan keberkahan yang selalu di nanti. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved