Berita DI Yogyakarta Hari Ini

Pemerintah Gencarkan Eliminasi TBC pada 2030 dengan Pelaksanaan Akselerasi Program TBC

POP TB Indonesia mengadakan kegiatan sosialisasi dukungan hotline kesehatan mental dan umpan balik pasien TBC .

Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Gaya Lufityanti
Tribunjogja.com/Neti Istimewa Rukmana
Koordinator Program TBC Komunitas DIY Siklus Indonesia (satu kanan), Ahli Klinis TBC Resisten Obat RSUP Dr. Sardjito (dua kanan), Ketua POP TB Indonesia (dua kiri) dan Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (satu kiri), menghadiri pelaksanaan sosialisasi dukungan hotline kesehatan mental dan umpan balik pasien TBC di Grand Tjokro Hotel, Kamis (16/3/2023). 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Sebagai dukungan pemberantasan kasus tuberkulosis (TBC) lebih lanjut, Perhimpunan Organisasi Pasien (POP TB) Indonesia bersama Sub Recipient (SR) TBC Komunitas Siklus Indonesia dan Yayasan Penyintas Tuberkulosis Terus Bersama-sama Berjuang Yogyakarta , mengadakan kegiatan sosialisasi dukungan hotline kesehatan mental dan umpan balik pasien TBC .

Hal itu dilakukan mengingat Global Tuberculosis Report (GTR) 2022, mengestimasikan adanya 969.000 kasus TBC baru dengan satu orang terinfeksi setiap 33 detik di Indonesia dan menempatkan Indonesia sebagai negara kedua kasus TBC terbanyak di dunia setelah India.

Ahli Klinis TBC Resisten Obat RSUP Dr. Sardjito, dr. Nur Rahmi Ananda, menyampaikan, berdasarkan informasi dari Kementerian Kesehatan RI, Indonesia masih terdapat 500-1.000 kasus TBC yang belum ternotifikasi.

"Artinya ada yang mungkin satu belum terdiagnosis ( TBC ) atau ada satu yang ditemukan ( TBC ), tapi belum tercatat," tuturnya saat menghadiri Sosialisasi Dukungan Hotline Kesehatan Mental dan Umpan Balik Pasien TBC , di Grand Tjokro Hotel, Kamis (16/3/2023).

Baca juga: 286 Kasus TBC dengan 14 Kasus Kematian Sepanjang 2022, Dinkes Kulon Progo Tingkatkan Pelacakan Kasus

Sehubungan dengan hal tersebut, Koordinator Program TBC Komunitas DIY Siklus Indonesia, Rakhmawati menyampaikan, sebagai langkah menekan permasalahan TBC dibutuhkan dukungan dari berbagai stakeholder untuk menjalankan kepatuhan pengobatan pasien Tuberkulosis Resiten Obat (TB RO).

"Karena, kalau pasiennya sembuh itu akan meminimalisasi atau bahkan mencegah penyebaran TBC . Sehingga, Indonesia bisa mencapai eliminasi TBC pada 2030," papar Rakhma.

Target eliminasi TBC pada 2030 sendiri merupakan kebijakan pemerintah melalui pelaksanaan akselerasi program TBC, yang terdiri atas tiga akselerasi berupa active case finding (ACF), ekspansi pemberian terapi pencegahan TBC (TPT) untuk kontak serumah serta penguatan survailans TBC .

Senada dengan pernyataan tersebut, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta , Setyarini Hestu Lestari, memaparkan bahwa TBC masih menjadi permasalahan masyarakat yang harus dituntaskan secara bersama-sama.

"Maka sebetulnya TBC itu bisa diatasi melalui akselerasi, berupa ACF atau penemuan kasus secara aktif dengan melakukan berbagai hal yakni skrining melihat gejala, skrining rontgen mobile dan tracing dari kasus TBC SO dan TBC RO melalui investasi kontak," urainya.

Selanjutnya terdapat akselerasi program TBC ekspansi pemberian TPT untuk kontak serumah dengan dua strategi berupa memperkuat komunikasi informasi dan edukasi tentang pentingnya TPT serta penguatan kapasitas tenaga kesehatan dan fasilitas layanan kesehatan masyarakat (Fasyankes).

Tidak hanya itu saja, akselerasi program TBC berupa penguatan survailans TBC untuk meminimalisasi kasus yang tidak terlupakan dinilai perlu untuk dilakukan.

"Hal itu dapat didorong dengan strategi penguatan kapasitas Fasyankes dalam pencatatan pelaporan TBC melalui sistem informasi, validasi data TBC di seluruh Fasyankes, penyisiran kasus TBC di rumah sakit pemerintah dan swasta serta perluasan layanan TBC melalui Big Chain Hospital dan Fasyankes berjejaring," jelas Rini.

Ketua POP TB Indonesia, Budi Hermawan, menilai bahwa penanggulangan kasus TBC harus dilakukan lebih serius.

"Bukan berarti saat ini tidak serius, tapi kalau bisa lebih serius dari pada itu," pinta Budi.

Bahkan, sebagai langkah respon sebaran TBC, POP TB Indonesia dan PR Komunitas Penabulu-STPI turut mengembangkan tools atau alat laptotbc.id untuk meningkatkan ketersediaan, aksesibilitas dan penerimaan layanan TBC yang berpusat pada pasien dengan melibatkan populasi terdampak TBC.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved