Berita Bantul Hari Ini

114 Sapi di Bantul Terjangkit LSD

Ratusan sapi yang terjangkit virus LSD tersebut tersebar di sejumlah kapanewon, namun terbanyak ada di Kapanewon Pajangan, Sedayu, dan Piyungan.

Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
Shutterstock
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Para peternak di Kabupaten Bantul diminta untuk menjaga kebersihan kandang untuk menekan penyebaran penyakit Lumpy Skin Disease ( LSD ).

Apalagi penyakit tersebut kini sudah sudah masuk ke Kabupaten Bantul .

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul Joko Waluyo menyebut sampai saat ini sudah ada 114 ekor sapi yang terjangkit LSD

Dari jumlah tersebut, pihaknya belum mendapat laporan ada ternak yang mati karena LSD .  

“Untuk jumlah kasus LSD di Bantul per 28 Februari ini ada 114 kasus, penularannya paling banyak disebarkan oleh caplak (sejenis kutu)," ujarnya Rabu (1/3/2023).

Baca juga: BBVet Wates Sejauh ini Sudah Periksa 1.600 Sampel Ternak yang Dicurigai Terpapar LSD

Joko mengatakan ratusan sapi yang terjangkit virus LSD tersebut tersebar di sejumlah kapanewon, namun terbanyak ada di Kapanewon Pajangan, Sedayu, dan Piyungan.

Walaupun ada juga kapanewon yang belum ditemukan kasus LSD pada hewan ternak.  

Meski banyak sapi yang terjangkit LSD, namun Joko mengatakan penularan penyakit ini tak semasif penyakit mulut dan kuku (PMK) yang sempat menyebar di Bantul , beberapa waktu lalu.

Selain itu pengobatannya juga relatif murah dan sapi juga akan cepat sembuh.

“Tingkat fatalitasnya rendah. Sampai saat ini saya juga belum mendapat laporan adanya ternak yang mati karena LSD ,” katanya.
 
Menurutnya virus LSD menyebar dari sapi ke sapi melalui kutu atau nyamuk yang menghisap darah sapi

Maka, jika ada sapi atau ternak yang terjangkit, harus segera dikarantina agar tidak menularkan ke ternak yang lain.

“Selain itu, para peternak juga diminta untuk terus menjaga kebersihan kandang,” imbuhnya.

Di sisi lain, pihaknya juga berupaya memberikan vaksin ke ternak untuk menekan penularan penyakit ini.

DKPP Bantul sendiri sudah mengajukan vaksin ke Kementerian Pertanian sebanyak 3.500 dosis.

Baca juga: 516 Sapi di Sleman Terkonfirmasi Terpapar LSD, 13 Sembuh dan 11 Lainnya Mati 

“Dari permintaan 3.500 dosis, sudah 180 dosis yang kami terima dan langsung kami distribusikan,” katanya.

Lebih lanjut Joko mengatakan DKPP juga melakukan pemantauan hewan ternak yang dijual di pasar-pasar hewan.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan ternak yang dijual adalah yang benar-benar sehat.  

Sementara itu, Kepala Bidang Peternakan DKPP Bantul Agus Riyadmadi membeberkan, kapanewon Pajangan merupakan wilayah dengan temuan kasus tertinggi dengan jumlah 35 kasus.

Kemudian disusul Sedayu sebanyak 21 kasus, lalu Kasihan 15 kasus, dan kapanewon Bantul sebanyak 12 kasus.

"Sementara untuk kapanewon lainnya rata-rata temuan kasusnya berada di kisaran 1 sampai 5 kasus," ungkapnya.( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved