Menilik Sejarah dan Corak Perkembangan Etnis Tionghoa di Kota Magelang
Jejak utama etnis Tionghoa bisa ditelusuri melalui gang-gang di kawasan Pecinan, baik di sisi kanan maupun kiri sepanjang Jalan Pemuda Kota Magelang.
Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting
TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Kota Magelang menjadi salah satu kota di Jawa Tengah yang memiliki sejarah panjang tentang masuknya etnis Tionghoa ke Tanah Air.
Corak perkembangan etnis Tionghoa di Kota Sejuta Bunga ini pun dibuktikan dari beberapa peninggalan yang masih terjaga.
Jejak peninggalannya pun masih bisa ditelusuri sampai sekarang.
Jejak utamanya bisa ditelusuri melalui gang-gang di kawasan Pecinan, baik di sisi kanan maupun kiri sepanjang Jalan Pemuda Kota Magelang.
Di sisi timur Pecinan mengalir Kali Manggis sebagai irigasi utama saat itu, sedangkan di sisi barat juga ada pecahan Kali Manggis dengan jembatan air Plengkung yang juga berfungsi sebagai drainase kota.
Pegiat Komunitas Kota Toea Magelang, Bagus Priyana, mengatakan menengok sejarah Pecinan di Kota Magelang berawal dari terjadinya peristiwa Geger Petjinan tahun 1740 di Batavia (sekarang Jakarta).
"Tahun segitu terdapat sebuah peristiwa orang pecinan di Batavia (Jakarta) terjadi pembunuhan besar-besaran oleh pemerintah Belanda karena menganggap banyaknya orang Tionghoa yang berpotensi menimbulkan kerusuhan. Tercatat, puluhan ribu orang Tionghoa terbunuh," ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.
Dia melanjutkan, kelompok-kelompok Tionghoa korban geger Petjinan yang selamat berusaha menyelematkan diri ke wilayah Pantura. Seperti, Semarang, Lasem dan Pesisir Utara.
Beberapa kelompok lagi, berusaha masuk ke pedalaman, salah satunya ke Kasunan Surakarta.
"Di sana mereka minta pertolongan kepada Pakubowana II. Tetapi, di sana (Kasunan) juga terjadi kekisruhan sehingga kelompok dari masyarakat Tionghoa ini, akhirnya menyelematkan diri ke daerah Kutoarjo (wilayah Purworejo), mereka bermukim di desa namanya Klangkang Jono," terangnya.
Hingga akhirnya pecah Perang Diponegoro tahun 1825-1830. Perang ini menimbulkan berbagai kekacauan.
Hingga mengakibatkan masyarakat Tionghoa di Kutoarjo harus meninggalkan wilayah tersebut, dan berusaha menyelamatkan diri.
"Mereka menyelematkan diri dengan menembus pegunungan Menoreh menuju arah Magelang. Salah satu, sumber menyebutkan kelompok ini terbagi dua. Satu ke Magelang, satu lagi Parakan (Temanggung). Yang di Magelang ini mereka bermukim di sebuah jalan kecil di sebelah barat Pecinan, yang kita kenal sekarang ini Kampung Ngarakan,"ucapnya.
Lalu pada tahun 1925-1930 kondisi mulai membaik, Perang Diponegoro berakhir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Penampakan-kawasan-Pecinan-di-Kota-Magelang-Selasa-21022023.jpg)