Kisah Seniman Asal Purworejo Ubah Limbah Cangkang Telur Jadi Uang

kerajinan cangkang telur jadi lukisan dari warga Desa Bajangrejo, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah

Tayang:
Penulis: Dewi Rukmini | Editor: Iwan Al Khasni
Tribunjogja.com/Dewi Rukmini
Heri Sutrisno (49), warga Desa Bajangrejo, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, yang memanfaatkan cangkang telur menjadi kerajinan tangan dan lukisan bernilai seni tinggi. Saat ditemui di Purworejo Expo, Sabtu (18/2/2023). 

Berbicara tentang seni dan kerajinan tangan tak pernah ada habisnya. Sebab, dua hal itu tak pernah terlepas dari keunikan dan ciri khasnya tersendiri, tak heran, apabila para seniman dan pengrajin kerap berlomba-lomba memunculkan karya unik dan berbeda dari biasanya. Bahkan, tak jarang mereka memanfaatkan bahan yang ada di kehidupan sehari-hari menjadi karya seni dan kerajinan tangan, termasuk cangkang atau kulit telur.

Heri Sutrisno (49), warga Desa Bajangrejo, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, yang memanfaatkan cangkang telur menjadi kerajinan tangan dan lukisan bernilai seni tinggi. Saat ditemui di Purworejo Expo, Sabtu (18/2/2023).
Heri Sutrisno (49), warga Desa Bajangrejo, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, yang memanfaatkan cangkang telur menjadi kerajinan tangan dan lukisan bernilai seni tinggi. Saat ditemui di Purworejo Expo, Sabtu (18/2/2023). (TRIBUNJOGJA.COM/Dewi Rukmini)

BAGI kebanyakan orang, cangkang telur dianggap menjadi limbah rumah tangga begitu selesai dimasak isinya. Namun, tidak bagi Heri Sutrisno, warga Desa Bajangrejo, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Pria berusia 49 tahun itu mengubah cangkang telur menjadi produk kerajinan tangan dan lukisan estetik bernilai seni tinggi. Ia pun berhasil meraup pundi-pundi rupiah lewat cangkang telur.

Hanya bermodalkan triplek dan lem kayu, Heri memproduksi barang-barang fungsional semisal kotak P3K, celengan, kotak tisu, vas bunga, tempat sisir, kotak file book (arsip), kotak alat rias, dan tempat pensil, dengan berhiaskan corak unik dari pecahan cangkang telur.

Barang-barang tersebut, ia tawarkan dengan harga mulai Rp7 ribu hingga Rp70 ribu per item, tergantung jenis, ukuran, dan fungsi barangnya.

Selain itu, Heri juga memanfaatkan pecahan cangkang telur menjadi lukisan estetik yang indah dan bernilai seni tinggi. Biasanya, ia melukis potret tokoh-tokoh besar semisal Bapak Proklamator Indonesia Soekarno.

Lalu, Presiden Keempat Indonesia Alm. KH Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur. Juga tokoh fisikawan dunia penemu teori relativitas (E=MC⊃2;) yakni Albert Einstein. Lukisan itu ia banderol Rp3 juta untuk ukuran 50x70 cm.

Heri mengaku, karyanya tersebut pernah dibeli oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dan Menteri Agraria.

"Beberapa bulan lalu di Jakarta, lukisan Einstein saya dibeli oleh Menteri Agraria. Kalau lukisan Soekarno, kemarin saya membuat dua buah, yang satu dikoleksi Pak Ganjar Pronowo, sisanya dibeli saat pameran di Jakarta. Bahkan, Pak Ganjar juga pernah pesan lukisan wajah beliau," ungkap Heri kepada Tribunjogja.com di tengah gelaran Purworejo Expo, Sabtu (18/2/2023).

Lantas, Heri bercerita mulai menekuni kerajinan tangan dari cangkang telur tersebut sejak 2016 lalu. Sebelumnya, ia sempat bekerja di perusahaan swasta juga sambilan membuat kerajinan tangan dari berbagai macam limbah, semisal batu hias, pasir putih, pasir hitam, daun pisang kering, dan manggar kelapa.

Hasil kerajinan itu, ia pasarkan dalam gelaran sunday morning UGM, atau pameran di Cebongan dan Denggung, Sleman.

Akan tetapi pada 2016, Heri memutuskan resign dari pekerjaannya untuk fokus mengembangkan usaha kerajinan tangan. Pada tahun yang sama, Heri mulai beralih ke kerajinan kulit telur.

"Secara kualitas kulit telur itu kuat dan tidak mudah copot walaupun digaruk-garuk, kecuali direndam air. Selain itu peminatnya juga lebih banyak jadi saya melihat peluang di situ," ujarnya.

Heri mendapatkan limbah kulit telur dari ibu-ibu rumah tangga di sekitar rumahnya, penjual nasi goreng, dan toko roti. Limbah itu ia dapatkan secara cuma-cuma alias gratis. Meski begitu, Heri mengaku terkadang memberikan hasil karyanya sebagai kompensasi.

Tak sampai disana, berkat usahanya itu, Heri juga bisa memberdayakan ibu-ibu tetangganya. Heri menyebut saat ini ada empat orang ibu-ibu yang membantunya memproduksi barang kerajinan tangan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved