Berita Pendidikan Hari Ini

UIN Sunan Kalijaga Beri Anugerah Doktor Honoris Causa pada Tiga Tokoh Perdamaian

Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga (Suka) menganugerahkan Gelar Doktor Honoris Causa kepada tiga tokoh sekaligus.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
Istimewa
Pemberian anugerah Dr HC pada tiga tokoh perdamaian oleh UIN Sunan Kalijaga, Senin (13/2/2023) di Kampus UIN Suka 

Deklarasi ini melibatkan dua otoritas keagamaan dunia yakni Tahta Suci Vatikan sebagai lembaga tertinggi Katolik dan Al Azhar sebagai representasi Muslim Sunni paling utama.

Deklarasi ini turut menjadi bukti bahwa Tahta Suci Vatikan, di bawah Paus Fransiskus, telah aktif mempromosikan toleransi dan harmoni di antara umat beragama.

"Beliau menggarisbawahi betapa Indonesia mempunyai resep tersendiri tentang perpaduan Islam dan budaya lokal, dan relasi antara umat beragama di Indonesia ini berbeda dan lebih banyak harmonisnya, tentu saja ada persoalan-persoalan di seluruh dunia ini tetapi beliau sangat optimis ketika menggarisbawahi tentang Islam di Indonesia dan relasinya dengan umat agama lain beliau mempunyai perhatian," paparnya.

Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan, penganugerahan itu sangat berarti, tidak hanya bagi NU, Muhammadiyah dan Katolik.

Pada pidato pengukuhannya, masing-masing tokoh memberikan sumbangsih pemikiran terutama mengenai kondisi umat beragama saat ini, baik di lingkup Nasional maupun internasional.

Tokoh pertama yang memberikan pidato adalah Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf. Pihaknya menyoroti posisi agama-agama dan tanggapan Islam terhadap Tata Dunia Baru.

“Kami (NU) memilih untuk mengajak umat Islam untuk menempuh visi baru, mengembangkan wacana baru tentang fiqih, yaitu fiqih yang akan dapat mencegah eksploitasi atas identitas, menangkal penyebaran kebencian antar golongan, mendukung solidaritas, dan saling menghargai perbedaan di antara manusia, budaya dan bangsa-bangsa di dunia,” terangnya.

Sementara Dr. Sudibyo Markus MBA, tokoh dari Muhammadiyah membaca pidato ilmiahnya da menyampaikan bahwa NU dan Muhammadiyah menjadi dua saudara pergerakan Islam yang dibanggakan oleh masyarakat Indonesia.

Ia menekankan perlunya berbagi dan memahami sejarah masa lalu.

Baca juga: Sebanyak 70 Motor dengan Knalpot Blombongan Disita, Polres Bantul Pesan Ini Pada Simpatisan Partai

Tidak hanya di antara para pemimpin agama tapi juga pada level masyarakat, yang akan melibatkan semua elemen dari berbagai keyakinan di dalam lingkungannya masing-masing.

Terakhir, Kardinal Ayuso yang diberi kesempatan untuk membacakan orasi ilmiahnya. mengangkat tentang kolaborasi antar agama dapat dan harus mendukung hak-hak seluruh umat manusia, di seluruh bagian dunia pada satu waktu.

“Kita semua adalah bagian dari keluarga dan oleh karena itu kita memiliki hak yang sama sebagaimana tanggung jawab dan kewajiban kita di dunia ini. Bahwa kemanusiaan menjadi akar kesamaan adanya kerja sama dan dialog antar umat beragama,” tegasnya. (ard)

 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved