Resensi Buku
Inilah Resensi Novel ' Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam , Karya Dian Purnomo
Novel perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam mengisahkan kehidupan seorang tokoh bernama Megi Diela yang merupakan lulusan dari sarjana Pertanian
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Ikrob Didik Irawan
Setelah merantau di luar daerah karena pendidikan, tokoh Magi Diela kembali ke tanah kelahirannya.
Alih-alih memiliki tujuan akan sebuah pembangunan di daerah Sumba, Magi Diela justru diculik dan dijinakkan seperti layaknya binatang.
Kini Magi Diela harus melakukan perlawanan dari banyak pihak.
Melawan orangtua, seisi kampung, dan juga adat yang merenggut kemerdekaannya sebagai seoranh perempuan.
Hati Magi Diela meronta-ronta, dan kini ia harus memilih meninggalkan orangtua dan tanah kelahirannya, menyerahkan diri kepada si mata keranjang, bahkan hingga mencurangi kematiannya sendiri.
Novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam ini ditulis berdasar pada pengalaman banyak perempuan Sumba yang menjadi korban kawin tangkap yang sudah menjadi tradisi lama.
Tokoh Leba Ali menjadi seseorang yang menyalahgunakan kekuasaannya untuk memperistri tokoh Magi Diela dengan tujuan untuk memuaskan hasrat dan nafsu birahinya.
Akan ada rasa emosi yang diaduk-aduk ketika membaca kisah dalam buku ini.
Kita seperti ikut menebak-nebak bagaimana nanti cara yang dilakukan seorang Magi Diela untuk berjuang mendapatkan keadilannya.
Percakapan dalam buku ini mengandung dialek bahasa Sumba yang sama sekali tidak sulit dipahami karena dilengkapi pengertian di bawah catatan kaki untuk kosakata penting guna mempermudah pemahaman para pembaca.
Kelebihan dan Kekurangan Buku “Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam”:
KELEBIHAN
- Meski memiliki topik dan alur yang cukup berat, kisah dalam buku ini ditulis oleh Dian Purnomo dengan tempo yang cepat dan tidak serumit itu, karena dalam setiap babnya hanya disusun dengan singkat mencapai 4 hingga 8 halaman saja.
- Latar tempat buku “Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam” ini mengambil daerah Sumba, Nusa Tenggara Indonesia, dan Dian Purnomo berhasil menciptakan daerah Sumba persis seperti aslinya.
- Terdapat pembelajaran yang bisa kita ambil melalui perlawanan tradisi "kawin tangkap" yang berasal dari daerah Sumba, Nusa Tenggara Indonesia.
KEKURANGAN
- Buku “Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam” mengandung unsur seksualitas hingga kekerasan fisik, dimana tidak disarankan untuk pembaca di bawah umur.
(MG Aulia A Putri)
Seorang Karyawan Toko Oleh-oleh di Jogja Gelapkan Uang Hasil Penjualan untuk Main Judi Slot |
![]() |
---|
Kota Terbuat dari Rindu, Faktanya Yogyakarta Justru Jadi Kota dan Provinsi Kesepian di Indonesia |
![]() |
---|
Debut Internasional, Mahasiswa UMBY Sabet Emas 2nd Tapak Suci World Championship 2025 |
![]() |
---|
Kepala Sekolah di Kulon Progo Tak Keberatan Harus Cicipi MBG Demi Antisipasi Keracunan |
![]() |
---|
Pria di Bantul Curi Sepeda Motor Milik Tetangga, Awalnya Ngaku Kepepet Ternyata Karena Sakit Hati |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.