Kisah Mas Thukul, Eks Driver Wali Kota Yogyakarta yang Banting Stir Jualan Bakmi Jawa di Kotagede

Tri mengatakan keputusannya banting stir dan alih profesi dari sopir menjadi penjaja Bakmi Jawa dirasa tidak terlalu ekstrem.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/Azka Ramadhan
Mas Thukul tengah memasak hidangan bakmi Jawa di warungnya yang berlokasi di Kotagede, Yogyakarta 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kawasan Kotagede selama ini dikenal sebagai salah satu sentra Bakmi Jawa paling masyhur di Kota Yogyakarta.

Bagaimana tidak, di sana bercokol puluhan, atau bahkan ratusan pedagang makanan khas tradisional tersebut.

Seakan melengkapi suguhan wisata heritage yang begitu menjamur di Kotagede, sajian Bakmi Jawa pun senantiasa jadi daya tarik bagi pelancong.

Terang saja, tak sedikit warung makan Bakmi Jawa yang kemudian muncul sebagai legenda di Yogyakarta.

Mengintip peluang yang terbilang besar di pasaran, sosok Tri Harjono pun memberanikan diri untuk ambil bagian meramaikan khasanah perbakmian di area Kotagede.

Profesi driver yang sudah dijalani selama lebih kurang 18 tahun pun dia tanggalkan.

Padahal, sepak terjangnya di dunia driver tak perlu diragukan lagi, lantaran beberapa pejabat publik dan tokoh masyarakat di Yogyakarta pernah memakai jasanya.

Satu di antaranya adalah mantan Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, beberapa tahun silam.

"Pernah jadi supir Pak Haryadi, saya sekitar satu tahun, ya, sama beliau," ungkap Tri saat dijumpai di warungnya, yang berlokasi di Jalan Nyi Pembayun No 6, Kotagede, Kota Yogyakarta, tempo hari.

Meski demikian, Tri mengatakan keputusannya banting stir dan alih profesi dari sopir menjadi penjaja Bakmi Jawa dirasa tidak terlalu ekstrem.

Bukan tanpa sebab, sejatinya, darah Bakmi Jawa memang mengalir di tubuh Tri menurun dari sesepuh di masa lampau.

"Simbah saya dulu pernah jualan Bakmi Jawa juga di Pasar Kotagede, sekitar tahun 1960an, ya, dikenal dengan nama Mbah Tebok," jelasnya.

"Setelah nggak jadi driver, sempat bingung, mikir mau usaha apa. Tapi, simbah saya, kan, jualan bakmi, ya, sudah meneruskan saja," tambah Tri.

Namun, ia memutuskan tidak menggunakan nama sang eyang yang terbilang sudah legendaris tersebut.

Sehingga, warungnya yang beroperasi dari awal 2023 itu ditempelkan brand 'Mas Thukul', selaras dengan paraban, atau sapaannya sehari-hari.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved