Politik Global

Brasil-Argentina Ingin Singkirkan Dolar AS, Akan Ciptakan Mata Uang Bersama

Brasil dan Argentinya bersiap menciptakan mata uang yang bisa digunakan bersama, guna melepas ketergantungan dolar AS di transaksi perdagangan.

Tayang:
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
KONTAN
Ilustrasi mata uang dolar 

TRIBUNJOGJA.COM, BRASILIA - Brasil dan Argentina mulai bekerja untuk menciptakan serikat mata uang yang pada akhirnya akan melibatkan negara lain di benua itu

Negara-negara utama Amerika Selatan itu bergerak untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Demikian diberitakan Russia Today, Senin (23/1/2023) mengutip berbagai sumbernya.

Menurut Financial Times, Brasil dan Argentina berencana untuk membuat mata uang Bersama yang digunakan untuk transaksi perdagangan.

Rencana tersebut akan dibahas dan diumumkan secara resmi pada pertemuan puncak di Buenos Aires minggu ini.

“Akan ada… keputusan untuk mulai mempelajari parameter yang diperlukan untuk mata uang bersama, yang mencakup segala sesuatu mulai dari masalah fiskal hingga ukuran ekonomi dan peran bank sentral,” kata Menteri Ekonomi Argentina Sergio Massa.

Baca juga: Lula da Silva Batalkan Swastanisasi 8 BUMN Brasil, Selamatkan Hutan Amazon

Baca juga: Afsel Ajak Ciptakan Sistem Pembayaran di Luar Dolar Amerika

Menurut Massa, negara Amerika Latin lainnya akan diundang untuk bergabung dalam proyek mata uang bersama.

Brasil mengusulkan untuk memanggil mata uang baru 'sur', yang diterjemahkan sebagai 'selatan'.

Massa mencatat pembuatan 'sur' kemungkinan akan memakan waktu bertahun-tahun, menunjuk pada fakta bahwa Eropa membutuhkan waktu 35 tahun untuk menciptakan euro.

“Ini akan menjadi studi tentang mekanisme integrasi perdagangan. Saya tidak ingin membuat ekspektasi yang salah… ini adalah langkah pertama dalam perjalanan panjang yang harus dilalui Amerika Latin,” jelasnya.

Pejabat lain yang berbicara kepada outlet berita mengatakan mata uang baru diharapkan dapat meningkatkan perdagangan regional dan membantu mengurangi ketergantungan negara pada dolar AS.

Brasil dan Argentina telah membahas gagasan tentang mata uang bersama selama beberapa tahun.

Tetapi bank sentral Brasil sebelumnya memblokir upaya untuk memulai inisiatif semacam itu. Sumber yang mengetahui masalah itu berbicara kepada Financial Times.

Kedua negara membanggakan ekonomi terbesar di Amerika Selatan. Brasil adalah anggota kelompok BRICS dan telah menikmati stabilitas ekonomi yang relatif dalam beberapa tahun terakhir.

Meski demikian analis menunjukkan sejumlah kendala yang dapat menghambat pertumbuhan tahun ini.

Argentina, sementara itu, telah dilanda ketidakstabilan ekonomi selama beberapa dekade. Negara ini telah beberapa kali gagal membayar utangnya, terakhir pada 2020.

Mdereka harus menggunakan kontrol modal untuk melindungi mata uangnya. Inflasi di negara itu saat ini melonjak dan memiliki utang sekitar $ 40 miliar kepada IMF.

Perkembangan lain menyangkut model bisnis baru di luar system dollar AS, China telah memperpanjang jam perdagangan untuk onshore yuan.

Ini cara China memperluas penggunaan mata uang nasional lintas batas dan meningkatkan aktivitas perdagangan yuan.

Mulai 1 Januari 2023, jam perdagangan untuk onshore yuan telah meningkat sehingga transaksi valuta asing sekarang dapat dilakukan hingga pukul 3 pagi di Beijing.

Bukan batas waktu 23.30 yang telah diberlakukan sebelumnya. Langkah tersebut membawa perdagangan ke malam Eropa dan lebih dalam ke hari AS.

Langkah tersebut mendukung inisiatif Beijing sebelumnya yang bertujuan untuk mempromosikan penggunaan mata uang nasional China dalam transaksi dengan eksportir energi utama dan pasokan komoditas.

Bulan lalu, Presiden Xi Jinping mengonfirmasi Beijing siap melakukan pembelian energi dalam yuan, bukan dolar AS, dengan negara-negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC).

Ketegangan China-AS, menyebabkan meningkatnya kekhawatiran atas potensi penggunaan dolar AS sebagai senjata ekonomi melawan China.

Upaya negara untuk membuang greenback dalam perdagangan internasional juga telah meningkat dengan latar belakang sanksi besar-besaran yang diperkenalkan barat terhadap Rusia.

"Beijing berusaha keras untuk menjaga yuan tetap relevan sebagai mata uang internasional untuk melawan ketegangan geopolitik baru-baru ini dan sentimen permusuhan, terutama di AS," kata Stephen Jen, kepala eksekutif hedge fund Eurizon SLJ Capital di London.

Yuan menguat ke level terkuat dalam empat bulan setelah China mengumumkan rencana perpanjangan jam perdagangan.

Mata uang telah naik sejak November, karena investor global bertaruh pada pemulihan ekonomi China setelah penurunan kebijakan nol-Covid.(Tribunjogja.com/RussiaToday/Bloomberg/xna)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved