Politik Global

Pertama Kali di Burkina Faso, Kelompok Teroris Culik 50 Wanita

Kelompok teroris afiliasi Al Qaeda di Burkina Faso menculik 50 wanita dan membunuh sekurangnya 9 orang di sebuah masjid.

Tayang:
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
AP
Pasukan khusus Burkinan Faso bersama dengan Pasukan Khusus Perancis melaksanakan operasi pembebasan sandera di Hotel Splendid, di Ouagadougou, Burkina Faso, Afrika Barat pada Sabtu (16/1/2016) 

TRIBUNJOGJA.COM, ARBINDA - Sekitar 50 wanita diculik kelompok teroris di kota utara Abrdinda, Burkina Faso. Wilayah ini telah diblokade kelompok ekstremis selama hampir setahun.

Menurut kesaksian beberapa saksi dan pejabat setempat yang tidak ingin disebutkan namanya, kelompok pertama yang terdiri dari empat puluh wanita diculik pada Kamis pekan lalu, sekitar belasan kilometer dari tenggara Arbinda.

Kelompok kedua yang terdiri dari sepuluh hingga dua puluh wanita diculik keesokan harinya di utara kota.

Beberapa wanita dilaporkan berhasil melarikan diri dan kembali ke desa mereka untuk menceritakan apa yang telah terjadi.

Kelompok penculik diduga berafiliasi dengan Al-Qaeda atau Islamic State (IS).

"Saat mereka keluar mencari buah-buahan liar, para istri, ibu, dan anak perempuan ini secara tidak sah diambil oleh orang-orang bersenjata," kata Gubernur Sahel Letnan Kolonel Rodolphe Sorgho.

"Segera setelah hilangnya mereka diumumkan, upaya diluncurkan untuk menemukan semua korban yang tidak bersalah ini dalam keadaan aman dan sehat," tambahnya.

Baca juga: Detik-detik Milisi di Burkina Faso Bantai Warga, Datang Dini Hari Lalu Eksekusi di Rumah, 138 Tewas

Baca juga: Kudeta Burkina Faso, Jejak AS-Prancis di Afrika dan Moncernya Rusia

Seorang sumber keamanan mengatakan kepada AFP pada Senin, semua cara yang tersedia digunakan, di udara dan di darat, untuk menemukan para wanita ini.

"Pesawat terbang di atas area tersebut untuk mendeteksi gerakan yang mencurigakan," katanya.

Kepala HAM PBB Volker Turk menyerukan pembebasan segera dan tanpa syarat dari semua perempuan yang diculik.

Ia menambahkan peristiwa ini menjadi serangan pertama yang sengaja menargetkan perempuan di Burkina Faso.

Penculikan dan konflik bersenjata cukup sering terjadi di kota Arbinda dalam beberapa tahun terakhir.

Selama hampir setahun sejak negara dilanda pemberontakan, Idrissa Badini, juru bicara masyarakat sipil, mengatakan penduduk Arbinda berada di ambang bencana kemanusiaan karena kehabisan cadangan vital.

PBB memperkirakan sekitar satu juta orang tinggal di wilayah yang diblokade di Burkina Faso.

Selama setahun terakhir, Burkina Faso mengalami sejumlah ketidakstabilan politik, dengan dua pemerintahan kemudian digulingkan selama sembilan bulan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved