Politik Global

Jejak Israel di Kudeta Myanmar Terlacak di Spyware Cognyte

Spyware Cognyte digunakan perusahaan telekomunikasi Myanmar, dan bisa memantau pergerakan serta aktivitas penggunanya.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
Ye Aung THU / AFP
Ilustrasi foto yang diambil di Yangon pada 25 April 2020 ini menunjukkan ikon aplikasi Min Thein Kha (kanan bawah), aplikasi astrologi populer di Myanmar dengan sekitar dua juta pelanggan terdaftar dan 50.000 pengguna aktif harian, di ponsel. 

TRIBUNJOGJA.COM, LONDON – Jejak atau sidik jari elemen Israel ditemukan di rangkaian kudeta militer Myanmar 2021.

Informasi ini dirilis kantor berita Reuters dari dokumen baru yang mereka miliki. Publikasi info ini beredar luas Selasa (16/1/2023).

Sesaat sebelum kudeta dilakukan militer, Cognyte Software Ltd Israel (CGNT.O) memenangkan tender spyware canggih di di perusahaan telekomunikasi milik negara.

Spyware itu memungkinkan pemerintah memantau pengguna jaringan dan mencegat aktivitas mereka.

Pengaduan yang diajukan pengacara Israel Eitay Mack kepada Jaksa Agung Israel mengatakan kesepakatan itu dilakukan meskipun MA Israel pada 2017 melarang penjualan senjata ke junta Myanmar.

Spyware dapat digunakan untuk melacak pengguna tanpa bantuan perusahaan telekomunikasi dan internet, membobol perangkat mereka, menarik data terenkripsi, dan bahkan menguping panggilan mereka.

Baca juga: Duh! 100 Juta Pengguna Android Terinfeksi Aplikasi Spyware China

Pemerintah Israel berulang kali secara terbuka mengklaim ekspor militer dan teknologi ke Mynamar dihentikan, namun dokumen baru mengungkapkan sebaliknya.

Mack meminta MA dalam pengajuan hukum untuk membuka penyelidikan kriminal atas kesepakatan spyware itu.

Ia menuduh pejabat Kementerian Keamanan dan Luar Negeri, selain Cognyte, membantu dan bersekongkol dengan kejahatan terhadap kemanusiaan di Myanmar.

“Pengaduan tersebut ditandatangani lebih dari 60 orang Israel, termasuk mantan Ketua DPR, serta aktivis terkemuka, akademisi dan penulis," lapor Reuters.

Menurut laporan tersebut, sebuah kelompok aktivis bernama Justice for Myanmar memberikan dokumen tender kepada kantor berita dan Mack.

Dokumen tersebut mengungkapkan Myanmar Post and Telecommunications (MPT) mengeluarkan surat pada Januari 2021 untuk memberi penghargaan kepada Cognyte atas kontrak teknologi spyware.

Catatan pesanan pembelian dikeluarkan pada 30 Desember 2020. Sumber mengatakan kepada Reuters sistem tersebut diuji oleh perusahaan telekomunikasi negara MPT.

Ini bukan pertama kalinya perusahaan spyware Israel mendapat kecaman karena mengaktifkan aktivitas berbahaya.

Pada 2021, Facebook melarang Cognyte dari platform setelah mendeteksi aktivitas mencurigakan oleh pengguna spyware.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved