Lebih dari 30 Persen Dosen UII Berstatus Doktor, Rektor: Tingkatkan Penelitian Interdisiplin
Rektor UII, Fathul Wahid menyebut, ada sekitar 31,95 persen dosen berstatus doktor, menghitung dari 18 doktor yang baru saja kembali ke UII setelah
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Universitas Islam Indonesia (UII) memiliki lebih dari 30 persen dosen yang berstatus doktor.
Rektor UII, Fathul Wahid menyebut, ada sekitar 31,95 persen dosen berstatus doktor, menghitung dari 18 doktor yang baru saja kembali ke UII setelah menempuh studi doktoral selama empat tahun.
Menurutnya, angka tersebut lebih tinggi daripada rata-rata nasional yang baru mencapai 13,98 persen atau 42.825 dari 306.150 dosen.
Baca juga: Berkat 4 Pilar Astra KBA Kemuning Berkembang dan Membuahkan Hasil
“Di UII, sudah ada 248 dari 776 dosen yang berstatus doktor. Itu perlu kita syukuri. Di akhir tahun 2022 ini, ada 166 dosen UII yang sedang menempuh program doktor di berbagai universitas dalam dan luar negeri. Jika lancar, maka dalam empat tahun ke depan, dosen doktor di UII bisa lebih dari separuh jumlah, atau sekitar 53,35 persen atau 414 dari 776 dosen,” beber Fathul dalam Penyambutan Doktor Baru UII Tahun 2022 di Gedung Kuliah Umum Prof. dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII, Kamis (29/12/2022).
Fathul meminta para doktor untuk bisa melakukan riset interdisiplin yang mampu memecahkan masalah dari manusia yang kian kompleks.
Dia menilai, kompleksitas masalah ini membutuhkan pendekatan baru untuk menyelesaikannya.
Salah satu cara yang bisa digunakan adalah melibatkan beragam kepakaran terkait untuk mendesain solusi yang efektif.
“Dalam bahasa konsep, ini disebut dengan pendekatan interdisiplin. Pendekatan ini tidak hanya didasarkan pada keragaman disiplin yang terlibat, tetapi mengharuskan ada irisan antardisiplin,” tuturnya.
Ia melanjutkan, paling tidak, ada tiga argumen untuk menguatkan mengapa doktor harus melakukan riset interdisiplin.
Pertama, masalah yang kompleks tidak bisa dipecahkan disiplin tunggal. Kedua, penemuan dan kemajuan dalam riset lebih sering terjadi di perbatasan antardisiplin.
“Ketiga, interaksi antarperiset interdisiplin akan bermanfaat untuk memperluas perspektif dan memperjauh horizon,” tegasnya.
Fathul mengutip penelitian dari majalah sains terkemuka, Nature, bahwa sejak tahun 1980-an, terjadi kecenderungan peningkatan cacah publikasi interdisiplin.
Indikasinya adalah sitasi terhadap literatur di luar disiplin.
Data yang disajikan menunjukkan bahwa sepertiga referensi artikel ilmiah berisi literatur dari disiplin lain.
Temuan ini, kata dia, menggembirakan karena masalah dunia saat ini tidak bisa didekati hanya dengan disiplin tunggal.
“Data mengindikasikan bahwa studi interdisiplin yang melibatkan tidak terlalu banyak disiplin yang berdekatan lebih disarankan, dibandingkan yang melibatkan terlalu banyak disiplin yang saling berjauhan,” terangnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Kampus-Terpadu-UII-Kamis-29122022.jpg)