Politik Internasional
Ulasan Pakar Geopolitik, Militer Jerman Bersiap Hadapi Perang Lawan Rusia
Militer Jerman (Bundewswehr) mereformasi doktrin dan kekuatan militernya dari pasif menjadi bakal agresif menghadapi potensi perang di front timur.
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
TRIBUNJOGJA.COM, MOSKOW – Pakar geopolitik militer dan kolumnis independen, Drago Bosnic, menguak dokumen rencana militer Jerman yang menyiapkan diri perang melawan Rusia.
Dipublikasikan di situs analisis intelijen Southfront.org, Kamis (24/11/2022), Bosnic memulai ulasannya dari kilas balik Jerman sesudah era perang dingin.
Militer Jerman (Bundeswehr) saat itu melakukan restrukturisasi dan perampingan besar-besaran, secara drastis menurunkan jumlah pasukan siap tempur.
Setelah pembubaran Uni Soviet pada awal 1990-an, Bundeswehr dibiarkan tanpa musuh utamanya, menghilangkan kebutuhan untuk mempertahankan ratusan ribu tentara yang siap tempur.
Sejak itu, sebagai akibat dari perubahan doktrin NATO, militer Jerman memfokuskan kembali pada gaya perang intervensionis, membantu banyak invasi yang diluncurkan politik barat.
Baca juga: Senjata Arhanud Bantuan Jerman ke Ukraina Bertumbangan di Medan Perang
Baca juga: Dmitri Medvedev : Jerman Sudah Bertindak Memusuhi Rusia
Pasukan konvensional negara itu mengalami kontraksi yang signifikan, dengan krisis memuncak selama masa jabatan Ursula fon der Leyen sebagai menteri pertahanan.
Bundeswehr menjadi bahan tertawaan nasional, dengan laporan beberapa tentara menggunakan sapu, alih-alih senjata.
Sementara keenam kapal selam tidak berfungsi. Lebih buruk lagi, auditor militer Jerman mengatakan gambaran sebenarnya bahkan lebih buruk.
Kesiapan tempur militer sangat menggelikan, terutama dibandingkan dengan era Perang Dingin (Pertama).
Minat warga negara Jerman untuk mengabdi di Bundeswehr mencapai titik terendah sepanjang masa.
Namun, tampaknya Bundeswehr sekarang berencana untuk menjadi salah satu militer paling menonjol di NATO.
Setelah bertahun-tahun mendapat tekanan, terutama dari AS, Jerman secara efektif melakukan re-militerisasi.
Menurut laporan media terkemuka Jerman, Der Spiegel, Jerman harus meningkatkan kesiapannya untuk perang dengan Rusia.
Poin itu tertulis dalam dokumen rahasia Kepala Staf Pertahanan Jerman, Jenderal Eberhard Zorn.
Dokumen berjudul “Pedoman Operasional Angkatan Bersenjata” itu ditulis pada akhir September.
Menurut Jenderal Zorn, serangan ke Jerman berpotensi terjadi tanpa peringatan dan dapat menyebabkan kerusakan serius, bahkan eksistensial.
Oleh karena itu, kemampuan pertahanan Bundeswehr sangat penting untuk kelangsungan hidup negara.
Megareformasi Militer Jerman
Kepala Staf Pertahanan Jerman menekankan perlunya mega-reformasi Bundeswehr. Ia menambahkan selama kurang lebih 30 tahun, fokus misi luar negeri tak lagi relevan.
Sebaliknya, Jenderal Zorn berpikir itu harus menjadi pertahanan Aliansi Atlantik, dengan kemampuan untuk memberikan pencegahan yang terlihat dan kredibel, untuk mendominasi rencana aksi militer Jerman.
Dalam hal ini, khususnya, Bundeswehr harus mempersenjatai diri untuk persiapan perang, karena potensi konfrontasi di sisi timur NATO sekali lagi menjadi lebih mungkin.
Zorn lebih lanjut menyatakan Jerman harus memainkan peran perintis di Eropa dan memperkuat Bundeswehr.
Jenderal itu berpikir pasukan yang sangat terlatih siap untuk operasi, terbiasa dengan skenario perang intensitas tinggi adalah tulang punggung pencegahan.
Oleh karena itu, menurutnya, Bundeswehr harus mampu mempertahankan pemeliharaan unit operasional dan siap tempur besar yang tersedia untuk NATO setiap saat.
Dalam catatan penutup di dokumen itu, Jenderal Zorn mengklaim perang di Eropa adalah kenyataan, dan Jerman harus siap untuk kemungkinan seperti itu.
“Bundeswehr harus mengerahkan pasukan reaktif dan agresif dan mungkin tidak dapat menunggu dukungan dari Angkatan Darat AS,” katanya.
Selain itu, Zorn berpikir baik Uni Eropa maupun NATO tidak mampu merencanakan dan memulai tanggapan terhadap serangan di sisi timur setelah itu terjadi.
Tindakan tertentu untuk mengubah situasi sudah diambil. Bundeswehr sedang mempersiapkan pembentukan divisi militer baru pada 2024.
Dalam sebuah wawancara dengan Der Spiegel, seorang jenderal Bundeswehr menyatakan jika Jerman memperkuat Angkatan Bersenjatanya, tidak ada tentara yang akan bergerak di Eropa.
Meskipun cukup jelas mempertahankan dan memodernisasi angkatan bersenjatanya adalah kebutuhan dasar negara mana pun, rencana baru militer Jerman hampir tidak dapat digambarkan sebagai pertahanan diri.
Sementara Uni Soviet mempertahankan kontingen militer besar-besaran di Jerman Timur selama Perang Dingin (Pertama), termasuk senjata nuklir (termo), Federasi Rusia modern hampir tidak memiliki unit konvensional yang dapat membahayakan tempat mana pun di Jerman.
Satu-satunya pengecualian untuk ini adalah rudal hipersonik Iskander yang berbasis di Kaliningrad, wilayah paling barat Rusia. Tetapi senjata ini terutama melayani tujuan pencegahan asimetris terhadap kemungkinan serangan NATO.
Dengan demikian, peningkatan besar-besaran dalam pengeluaran dan pengadaan militer tidak dapat dibenarkan.
Selain itu, Jerman juga memiliki tanggung jawab sejarah yang tak tertandingi untuk menjaga perdamaian dengan Rusia.
Selama Perang Dunia Kedua, Jerman melancarkan invasi ke Soviet yang menewaskan hampir 30 juta orang.
Terlebih lagi, terlepas dari dekade denazifikasi setelah kekalahannya, Jerman masih memutuskan untuk mendukung pemerintahan di Kiev yang melindungi neo-Nazi.
Jerman secara efektif meninggalkan posisi politik resminya sendiri pascaperang. Ini juga termasuk pasokan senjata dan amunisi ke pasukan rezim Kiev.(Tribunjogja.com/Southfront/xna)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Tank-Leopard-Bundeswehr.jpg)