Teknologi Militer China

Kapal Selam Nuklir China Dilengkapi Rudal Bisa Jangkau Daratan AS

Kapal selam bertenaga nuklir China kelas Jin kini dilenegkapi rudal balistik antarbenua JL-3 yang berjarak jangkau 10 ribu kilometer.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
SCMP/Handout
FILE - China meluncurkan Rudal JL-3 dari kapal selam saat uji tembak yang tidak disebutkan waktunya. Rudalbalistik ini diperkirakan memkliki jangkauan lebih dari 10 ribu kilometer, bisa menjangkau daratan Amerika. 

TRIBUNJOGJA.COM, BEIJING – China memastikan pengembangan menerjunkan rudal balistik yang bisa diluncurkan dari kapal selam (SLBM) ditujukan untuk pertahanan dan penangkal serangan nuklir.

Pakar militer China menepis tuduhan dan klaim AS yang menyebut ada tujuan dipakai menyerang wilayah AS. Washington disebut memiliki motif tersembunyi untuk peningkatan dana militernya dengan dalih ini.

Akhir pekan lalu, Komandan Armada Pasifik AS, Laksamana Sam Paparo menyebut China telah melengkapi enam kapal selam kelas Jin (Tipe 094) dengan rudal balistik antarbenua JL-3.

Penguatan kemampuan kapal selam itu menurutnya dibangun untuk mengancam AS. Media terkemuka Bloomberg melaporkan klaim Paparo itu.

Ini adalah pertama kalinya AS mengakui China telah menerjunkan senjata pada kapal selam bertenaga nuklirnya.

Baca juga: Jet Tempur Kapal Induk Diprediksi Perkuat Militer China di Tahun 2021

Baca juga: Jika Perang Terjadi di Laut China Selatan, Seperti Ini Kekuatan Militer China

Baca juga: Amerika Serikat (AS) dan Jepang Cegah Akses Militer China dengan Cara Ini

Model SLBM China sebelumnya, JL-2, memiliki jangkauan sekitar 7.200 kilometer, sedangkan JL-3 baru dapat memiliki jangkauan lebih dari 10.000 kilometer.

China belum mengumumkan kemampuan rudal balistik antarbenua JL-3. Dengan meningkatkan perkembangan pertahanan nasional normal China, militer AS punya alasan untuk hadir lebih kuat di Asia-Pasifik.

Militer AS ingin mengerahkan lebih banyak pasukan anti-kapal selam di Pasifik Barat dan untuk mengembangkan kapal selam bertenaga nuklir yang lebih canggih.

Termasuk kelas Columbia yang dijadwalkan untuk menggantikan kelas Ohio. Analisis ini dikemukakan Wei Dongxu, ahli militer di Beijing kepada Global Times.

Mengungkapkan teori ancaman China akan membuat militer AS lebih banyak dana untuk melakukannya.

China mempertahankan kemampuan nuklirnya pada tingkat minimum yang diperlukan untuk pertahanan nasional.

Kekuatan nuklir berbasis kapal selamnya menurut Wei, dibangun hanya untuk serangan balik. Mereka tidak akan secara proaktif mengancam atau menyerang siapa pun.

Peluncuran uji coba JL-3 diduga dilakukan pada Juni 2019, dan Ren Guoqiang, juru bicara Kementerian Pertahanan Nasional China pada saat itu mengatakan uji coba yang dijadwalkan itu normal dan tidak ditujukan ke negara atau target tertentu.

"China selalu menganut kebijakan pertahanan nasional yang bersifat defensif dan strategi militer pertahanan aktif. Pengembangan senjata dan peralatan bertujuan untuk melayani kebutuhan dasar menjaga keamanan nasional China," kata Ren.

Pada Januari 2022, Fu Cong, Direktur Jenderal Departemen Pengendalian Senjata di Kementerian Luar Negeri China, mengatakan China tidak memiliki rencana drastis memperluas persenjataan nuklirnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved