Gelombang PHK Mengancam Startup, Ini Kata Ekonom UAJY
Gelombang pemutusan hubungan kerja ( PHK ) kini melanda Startup. Menurut Ekonom Universitas Atma Jaya Yogyakarta ( UAJY ) Dr. Y. Sri Susilo, SE
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Kurniatul Hidayah
Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gelombang pemutusan hubungan kerja ( PHK ) kini melanda Startup.
Menurut Ekonom Universitas Atma Jaya Yogyakarta ( UAJY ), Dr. Y. Sri Susilo, SE goyahnya startup sudah terjadi sejak pertengahan tahun 2022 ini.
Ia menyebut kondisi ekonomi bukan menjadi satu-satunya faktor goyahnya Startup yang berdampak pada PHK karyawan.
Ada faktor salah kelola, dalam hal ini Startup salah memprediksi pasar dan kondisi ekonomi.
Baca juga: Wisatawan Keluhkan Maraknya Parkir Sembarangan di Malioboro yang Bikin Macet Jalanan
"Saya kira ini karena kombinasi. Kondisi ekonomi iya, tapi sebagian juga salah kelola. Pandemi COVID-19 mengubah banyak hal,
termasuk demand (permintaan) pasar dan sebagainya. Sempat rekrut karyawan besar-besaran, kemudian demand turun, ekonomi juga turun, dan akhirnya terjadi PHK,” katanya, Senin (21/11/2022)
Kaprodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY tersebut melanjutkan kondisi Startup saat ini akan mempengaruhi pilihan generasi muda untuk bekerja di Startup.
Apalagi Startup sebelumnya menjadi idaman generasi muda untuk berkarir.
Meski kondisi sedang turun, namun Startup bisa bertahan.
Hanya saja hal tersebut dipengaruhi oleh pola pengelolaannya.
"Kualitas dari Sumber Daya Manusia (SDM) hingga pemilihan produk, dan kemampuan bersaing di pasar juga berpengaruh. Mereka yang memahami pengelolaan dengan baik kan bertahan, ya ada seleksi alam. Yang tidak bisa akan tersisih," lanjutnya.
Selain Startup, ancaman PHK juga menghantui industri, khususnya padat karya.
Namun industri yang berorientasi ekspor lebih banyak dipengaruhi kondisi ekonomi global.
Baca juga: KUA Depok Beri Bocoran Waktu dan Tempat Pernikahan Kaesang dan Erina
“Tidak hanya Startup. Industri padat karya juga, yang orientasi ekspor, kalau domestik masih aman. Untuk ekspor demand menurun, karena perilaku konsumen luar negeri itu rasional. Ketika ada sinyal menuju resesi, konsumen mengurangi konsumsi, fokus pada pangan dan energi. Kalau yang seperti baju, sepatu barang-barang yang sifatnya awet, mereka menunda,” ujarnya.
Meski ekonomi tumbuh, namun ancaman resesi 2023 masih ada.
Pasalnya, kondisi domestik, tidak bisa lepas dari kondisi global.
Perang Rusia dan Ukraina disebut cukup berpengaruh pada rantai pasok, utamanya pada energi.
Ia menambahkan pemerintah perlu membuat jaring pengaman sosial, terutama untuk para pekerja yang terkena PHK. (maw)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-pesangon-phk.jpg)