Berita Gunungkidul Hari Ini
Majelis Pendidikan Muhammadiyah Gunungkidul Berikan Trauma Healing bagi Korban Atap Ambruk
Majelis Pendidikan Muhammadiyah Gunungkidul menjadwalkan program Trauma Healing bagi pelajar SD Muhammadiyah Bogor , Playen.
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Majelis Pendidikan Muhammadiyah Gunungkidul memberikan perhatian khusus bagi para pelajar SD Muhammadiyah Bogor , Playen.
Terutama yang menjadi korban dari atap ambruk pada Selasa (08/11/2022) lalu.
Ketua Majelis Pendidikan Muhammadiyah Gunungkidul , Tamsir mengatakan pihaknya sudah menjadwalkan program Trauma Healing bagi korban.
"Sudah kami jadwalkan untuk tanggal 11 sampai 14 November ini," katanya pada Kamis (10/11/2022).
Baca juga: Polisi Usut Peristiwa Ambrolnya Atap Ruang Kelas SD Muhammadiyah Bogor di Gunungkidul
Tamsir mengatakan program trauma healing ini menggandeng sejumlah pihak.
Termasuk Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan tim dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD).
Program ini juga akan diberikan pada tenaga pengajar di SD tersebut.
Terkait kegiatan belajar mengajar, rencananya akan dialihkan ke lokasi lain di bawah naungan Muhammadiyah.
"Nanti bisa menggunakan ruang-ruang kelas yang kosong," jelas Tamsir.
Kepala SD Muhammadiyah Bogor , Indah Suryani menegaskan pihaknya tetap akan mempertanggungjawabkan kejadian kemarin, terutama terkait kondisi para pelajarnya.
Ia menyebut sudah mendatangi para pelajar yang kemarin ikut menjadi korban.
Pihaknya datang bersama perwakilan yayasan hingga Majelis Pendidikan Muhammadiyah Gunungkidul .
"Kami datangi anak-anak dan berikan mereka pendampingan," ujar Indah.
Ia pun mengklaim kondisi mereka sudah semakin baik.
Rencananya, program Trauma Healing akan diberikan secara bertahap, mulai dari tenaga pengajar kemudian ke pelajar.
Para pelajar yang menjadi korban luka ringan dari peristiwa atap ambruk kemarin disebut mengalami trauma.
Baca juga: 8 Fakta Ambruknya Atap SD Muhammadiyah Bogor Hingga Memakan Satu Korban Jiwa
Satu di antaranya dialami B, putra dari W.
W mengatakan putranya itu bahkan ingin pindah sekolah.
Keinginan itu juga diutarakan S, adik dari B yang juga bersekolah di SD Muhammadiyah Bogor .
"Keduanya takut untuk kembali bersekolah di sana," katanya, Rabu (09/11/2022) kemarin.
W saat itu mengatakan pihak sekolah atau yayasan belum datang untuk menjenguk anaknya.
Meski begitu, ia mengaku menerima tawaran bantuan penanganan psikis, namun tidak mengetahui dari mana asal tawaran tersebut.( Tribunjogja.com )