Sekjen PBB Antonio Guterres : Dunia di Jalur Menuju Neraka

Sekjen PBB Antonio Gutteres memperingatkan dampak perubahan iklim dunia yang dianggapnya membawa masyarakat dunia ke jalur menuju neraka.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
IST/unmission.org
Sekjen PBB Antonio Guterres. di KTT Perubahan Iklim di Mesir Gutteres memperingatkan dunia akan menghadapi bencana global akibat perubahan suhu yang tak bisa dikendalikan. 

Pekan lalu, aktivis iklim global Greta Thunberg menyarankan memerangi perubahan iklim dengan menghilangkan kapitalisme, yang katanya didefinisikan kolonialisme, imperialisme, penindasan dan genosida oleh apa yang disebut global utara.

Ancaman Konflik Besar di Kawasan Asia

Perkembangan menarik lain terjadi di kawasan Asia, yaitu potensi konflik besar atara AS dan sekutunya melawan China dan Rusia.

Laksamana Charles Richard, Komandan Komando Strategis AS mengemukakan, sejak 2018, AS telah melihat fokus strategis utamanya apa yang disebut “persaingan kekuatan besar” dengan Rusia dan China.

Ia mengklaim kedua negara itu (China dan Rusia ) mempelopori upaya untuk membalikkan tatanan global yang dijalankan AS yang dibangun sejak akhir Perang Dingin.

Charles Richard memperingatkan AS akan segera menghadapi konflik berlarut-larut dengan China tidak seperti apa pun yang dihadapi sebelumnya.

Stratcom bertanggung jawab untuk menangani senjata nuklir negara, serta rangkaian kemampuan informasi defensif dan ofensif yang disebut C4ISR.

“Kita harus melakukan beberapa perubahan mendasar dan cepat dalam cara kita mendekati pertahanan bangsa ini,” kata Richard pada simposium Angkatan Laut pekan lalu.

Baca juga: China Uji Coba Rudal Hipersonik Terbaru, Kemampuannya Buat Intelijen AS Tercengang

Baca juga: China Sukses Luncurkan Rudal Hipersonik yang Mampu Lepaskan Misil di Tengah Udara, Begini Respon AS

“Krisis Ukraina yang kita alami sekarang, ini hanya pemanasan,” katanya. “Yang 'besar' akan datang. Tidak akan lama lagi kita akan diuji dengan cara yang sudah lama tidak kita uji,” imbuhnya.

Richard memperingatkan kapal itu perlahan-lahan tenggelam karena China mengerahkan kemampuan baru lebih cepat daripada AS, yang akan segera kalah jumlah dan kalah di medan perang.

“(Saya) tidak akan peduli seberapa bagus (rencana operasi) kami atau seberapa baik komandan kami, atau seberapa bagus kuda kami - kami tidak akan memiliki cukup dari mereka. Itu masalah jangka pendek,” tegas Richard.

Richard juga mengkritik stagnasi AS, dengan mengatakan telah "kehilangan seni" dalam memberikan sistem baru dengan cepat.

“Angkatan Udara berangkat dari sebuah permintaan, hampir ditulis di atas serbet … ketika mereka mengetahui pada akhir 1950-an sistem pertahanan udara terintegrasi Soviet mencapai titik B-52 tidak akan berhasil masuk, dan kami membutuhkan sesuatu yang disebut 'rudal jelajah,'” kenang Richard.

AS sudah berada di belakang China dalam bidang rudal utama, dengan China menurunkan generasi rudal jelajah jarak jauh, sekumpulan varietas rudal balistik, dan beberapa jenis senjata hipersonik yang tidak ada tandingannya dan tidak ada jawabannya di AS.

Membuat debut mereka di masyarakat umum untuk pertama kalinya, rudal hipersonik DF-17 tampil di parade Hari Nasional China yang diadakan di Beijing pada 1 Oktober 2019.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved