Rivalitas PDIP Dan Demokrat, Ini Analisis Tajam Pengamat
Saling lempar sindiran kerap mewarnai hubungan antara PDI Perjuangan dan Partai Demokrat. Kini, itu kembali terjadi.
TRIBUNJOGJA.COM - Saling lempar sindiran kerap mewarnai hubungan antara PDI Perjuangan dan Partai Demokrat. Kini, itu kembali terjadi.
Rivalitas PDIP dan Partai Demokrat seakan berjalan abadi sejak puluhan tahun yang lalu. Partai Demokrat secara konsisten berada di luar pemerintahan dua periode Presiden Joko Widodo.
Sikap serupa juga dilakukan PDIP kala Susilo Bambang Yudhoyono berkuasa. Lantas, bagaimana rivalitas kedua partai ini bermula?
Analis komunikasi politik Universitas Paramadina Hendri Satrio mengatakan, rivalitas PDIP dan Demokrat muncul karena keduanya bisa menempatkan kadernya jadi presiden pasca-reformasi.
"Jadi kemudian kalau ada rivalitas antara PDIP dan Demokrat itu wajar," kata Hendri saat dihubungi Kompas.com, Minggu (18/9/2022).
Apalagi, Hendri menyebut kedua partai itu memiliki rekam jejak yang hampir sama, sehingga menumbuhkan rivalitas yang bukan sembarangan.
Hal ini seperti halnya rivalitas yang terjadi di dunia sepakbola antara Liverpool dan Manchester United atau AC Milan dengan Inter Milan.
Karena kondisi ini, ia melihat bahwa Pemilu 2024 bakalan menjadi pembuktian antara kedua partai.
"Jadi 2024 menjadi pembuktian siapa yang kira-kira menjadi pemenang beneran, apakah PDIP dengan Puan atau Demokrat dengan AHY-nya," jelas dia.
Menurutnya, kedua partai ini memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jika PDIP memiliki kekuatan di akar rumput, maka Partai Demokrat sangat kuat di kalangan elit dan tatanan keluarga TNI.
"Ini (Pemilu 2024) El Clasico, karena masing-masing pernah scudetto dan masing-masing kader pernah jadi presiden," tutupnya.
Sebelumnya, PDIP dan Partai Demokrat belakangan terlibat aksi saling sindir dan membandingkan antara pemerintahan SBY dan Jokowi.
Ini bermula ketika SBY mengaku telah mendengar adanya tanda-tanda Pemilu 2024 dilakukan secara tidak jujur. Karena kabar itu, SBY pun mengaku harus turun gunung untuk menghadapi Pemilu mendatang.
"Para kader, mengapa saya harus turun gunung menghadapi Pemilihan Umum 2024 mendatang? Saya mendengar, mengetahui, bahwa ada tanda-tanda Pemilu 2024 bisa tidak jujur dan tidak adil," kata SBY saat berpidato di acara Rapat Pimpinan Nasional Partai Demokrat, Kamis (15/9/2022).
Menanggapi kecurigaan SBY, Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristianto mengatakan, kecurigaan akan adanya pemilu tidak jujur sebelumnya pernah terjadi di masa kepempimpin SBY pada 2009.